“Pembebasan Mubarak adalah titik awal untuk gerakan rakyat damai di masa depan,” kata Mokhtar al-Ashri, ketua komite hukum Partai Kebebasan dan Keadilan Ikhwan kepada kantor berita Anadolu, Rabu kemarin (21/8/2013).
“Revolusi telah belajar banyak dan akan terus menghadapi realitas baru ini,” tambah al-Ashri.
Pada hari Rabu kemarin, pengadilan Mesir memerintahkan pembebasan Mubarak setelah menerima banding yang diajukan oleh pengacaranya yang melawan tuduhan bahwa mantan presiden telah menerima “hadiah” jutaan pound Mesir dari negara-negara tertentu selama masih menjabat.
Mantan presiden itu dijadwalkan akan dibebaskan dari penjara pada hari Kamis, menurut Asisten Menteri Dalam Negeri untuk Sektor Penjara Mustafa Baz.
Al-Ashri percaya bahwa pembebasan Mubarak akan menunjukkan bahwa kontra-revolusi makin mengukuhkan posisinya.
“Ini merupakan upaya untuk bernapas bagi rezim sebelumnya agar bisa kembali ke Mesir dan kembali menjadi negara tirani serta negara polisi,” tambahnya.
Hosni Mubarak digulingkan pada awal tahun 2011 setelah memerintah Mesir sejak 1981 setelah pembunuhan Presiden Anwar Sadat.[fq/islampos/anadolu]

0 komentar:
Post a Comment