Inilah Daftar Haters Raja Salman

Kaya, hafal Qur'an, cinta Islam dan dermawan tidak membuat Raja Salman bin Abdulaziz disukai oleh semua orang.

Terdapat beberapa kelompok yang sangat membenci negara Arab Saudi, terkhusus ialah Rajanya, karena dianggap bertentangan dengan ideologi dan kemauan mereka.

Berikut adalah 'haters' Arab Saudi yang dikenal istiqomah:

Hizbut Tahrir (HT, cabang lokal: HTI)
Kelompok yang mempropagandakan berdirinya "Khilafah" ini sangat tidak tidak suka dengan berdirinya national state, karena menurut mereka batasan teritorial telah melemahkan umat Islam.

Termasuk berdirinya Arab Saudi. Meski menerapkan syariat Islam, negara itu dituduh "melayani" kepentingan Inggris saat memecah wilayah bekas Utsmaniyah.

Di masa kini, Saudi juga disalahkan HTI karena membeli senjata modern dari Barat (terutama AS) secara besar-besaran.

Yang terbaru, HTI justru mengecam Arab Saudi yang membantu pemerintah sah Yaman dalam mengebom pemberontak Syi'ah Houthi.

Bagi HTI, Saudi dan berbagai negara harusnya "menyerang Israel".
Khusus ke sosok Raja Salman, situs HTI pernah menyerangnya ketika berlibur ke negeri Muslim Maladewa dan menghabiskan dana 30 juta Dollar, tahun 2014 saat ia masih menjabat 'Puta Mahkota'.

HTI menggunakan judul: "Pangeran Saudi Bayar 30 Juta Dolar Untuk Puaskan Syahwatnya"

"Sangat menyedihkan bahwa seorang Putra Mahkota Arab Saudi yang mengklaim menerapkan Islam justru menghambur-hamburkan jutaan dolar untuk bersenang-senang di kepulauan Maladewa", tulis HTI dalam opininya.

Takfiri dan ISIS

Pembenci Arab Saudi lainnya adalah ISIS. Kelompok militan yang sangat getol melakukan takfir dan pembunuhan ini menganggap pemerintah Arab Saudi adalah "thoghut" yang sudah "murtad" atau keluar dari agama Islam.

Raja Salman, para pangeran serta bawahannya, militer dan Ulama Arab Saudi dianggap "kafir" dan "halal darahnya".

ISIS telah melakukan berbagai serangan ke Saudi, termasuk bom bunuh diri di dekat Masjid Nabawi, Madinah. Aparat negara dan penganut Syi'ah jadi sasaran utama.

Alasan pengkafiran ala ISIS banyak. Tapi salah satu yang sering diangkat adalah karena Saudi mengebom ISIS di bawah koalisi internasional pimpinan AS.

Bagi ISIS, Arab Saudi "berloyalitas" (wala') dengan "kafir harbi" (AS) untuk memerangi mereka, sehingga jatuhnya "murtad".

Tuduhan loyalitas ini sudah terjadi sejak lama oleh kalangan takfiri kepada pemerintah-pemerintah dunia yang membuka relasi dengan AS.

Syi'ah
Sudah jadi rahasia umum kaum Syi'ah yang dimotori Iran sangat membenci Kerajaan Sunni Arab Saudi dan pemerintahnya yang disebut sebagai "Wahabi".

Syi'ah punya agenda menguatkan pengaruh di kawasan Timur Tengah dan seluruh dunia, namun musuh utama yang menghalangi mereka adalah "Wahabi".

"Wahabi" dituduh sebagai "antek Yahudi".

Kebencian kaum Syi'ah terhadap Raja Salman tambah menguat ketika Raja memutuskan membantu pemerintah sah Yaman mengatasi pemberontak Syi'ah Houthi.

Awal 2016, Syi'ah di dunia marah atas eksekusi mati Nimr al-Nimr, seorang tokoh Syi'ah di Saudi yang didakwa memprovokasi kekacauan.

Saudi juga membantu pemerintah Kerajaan Bahrain ketika memadamkan aksi demo besar Syi'ah tahun 2011.

Saudi pun adalah sponsor asing utama kelompok oposisi Sunni di Suriah (terutama Jaisyul Islam) dalam perlawanannya terhadap rezim Assad yang disokong Iran.

Di masa lalu, situs-situs keramat Syi'ah di Karbala dihancurkan oleh pasukan Ibnu Saud.

Kaum Liberal dan Islam KTP (Abangan Nusantara)
Mirip dengan Syi'ah, gabungan berbagai kelompok ini menganggap Arab Saudi sebagai pabrik "Wahabi" yang ingin disebarluaskan di Indonesia.

Mereka beranggapan, bahwa semuanya (Salafi, IM, HTI, ISIS, al-Qaeda) berasal dari "Wahabi", dan semua "Wahabi" itu radikal.

Keradikalan ini dituding dapat membahayakan NKRI, karena "Wahabi" dianggap membawa ideologi transnasional dan terorisme.

"Wahabi" juga ditakutkan akan memusnahkan kultur "kearifan lokal" Nusantara karena menganggapnya bid'ah dan syirik.

Al-Qaeda garis keras
Kalangan jihadis pro al-Qaeda belakangan terlihat "meredup" dalam kiprahnya di area konflik dan serangan militan.

Sebetulnya mereka telah terpisah dari paham ultra-ekstremis ISIS, dan mengembangkan pendekatan yang "lebih lunak".

Namun pendekatan itu tidak berlaku di mata pemerintah negara, seperti oleh AS, Arab Saudi dan Yaman. Al-Qaeda masih dianggap sebagai kelompok teroris.

Meski sebagian pengikut ideologi jihadis menaruh respek terhadap Raja Salman (jika dibanding Raja Abdullah), namun ada sebagian lain yang tetap tidak suka.

Ini terlihat saat eksekusi puluhan mati tokoh al-Qaeda awal 2016, termasuk Faris al-Zahrani. Mereka mengecam keras putusan pemerintah Saudi.

Selain itu, di Yaman terjadi operasi memberangus AQAP di wilayah selatan, yang melibatkan koalisi Arab dan AS.

Konflik antara Arab Saudi dan kalangan jihadis muncul di masa perang Teluk, saat Saddam Hussein menyerang Kuwait dan mengancam Saudi.

Kubu Osama bin Laden menawarkan bantuan pasukan dari Afghanistan untuk melawan Irak.

Tapi hal itu ditolak Kerajaan, karena tidak yakin bin Laden memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi Irak. Ditambah risiko masuknya milisi jihadi ke Saudi dipandang bisa mengancam kekuasaan Raja, jika sewaktu-waktu mereka melancarkan "revolusi".

Saudi menerima mandat PBB dengan hadirnya koalisi internasional, terutama AS. Hal ini dikecam keras kubu jihadis, yang menuding Saudi menerima orang kafir di sekitar Tanah Suci.

Sejumlah serangan bom bunuh diri mengguncang Saudi pada dekade 2000-an. Sasarannya adalah aset-aset asing di sana.

Pelaku bom terafiliasi dengan al-Qaeda ketika itu. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment