Turki Akan Menutup Pangkalan Militer Incirlik Untuk Amerika Serikat


Turki sedang mempertimbangkan untuk menolak Amerika Serikat (AS) menggunakan pangkalan militer Incirlik, yang digunakan untuk melakukan serangan udara pimpinan AS terhadap DAESH di Irak dan Suriah, jika kelompok YPG yang berafiliasi dengan teroris PKK turut berpartisipasi dalam operasi AS di Raqqa.

Ankara, yang telah berulang kali menyatakan keberatan terhadap partisipasi YPG, selama pembicaraan yang sedang berlangsung dengan para pejabat Washington menyarankan agar operasi di Raqqa dilakukan dengan partisipasi dari Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army – FSA) bersama dengan kelompok Arab dan Kurdi setempat.

Pangkalan Militer Incirlik di Turki selatan adalah kunci dasar untuk kampanye koalisi internasional kontra-Daesh di Suriah. Pangkalan ini menjadi tuan rumah untuk enam pesawat Tornado Jerman dan puluhan tentara Jerman serta jet dari AS, Inggris, Arab Saudi dan Qatar.

Pangkalan militer İncirlik menjadi penting sejak dijadikannya pangkalan itu sebagai tempat pengisian bahan bakar untuk jet tempur. Pangkalan udara itu juga menjadi tuan rumah sejumlah besar jet patroli dan jet pelacak.

Pesawat tempur AS untuk memerangi DAESH di Suriah dan Irak akan terganggu jika Ankara menutup wilayah udaranya untuk pesawat tempur Amerika, terutama F-14s.

Ankara telah mengungkapkan keberatannya sehubungan dukungan AS untuk PYD-YPG dan Pasukan Pertahanan Suriah (SDF), yang berafiliasi dengan PKK.

PKK terdaftar sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa. Sejak Turki mengetahui bahwa PYD bekerja sebagai afiliasi PKK, Ankara mengatakan Washington seharusnya tidak bekerja sama dengan mereka (PYD).

Sebelumnya, sumber militer Turki memverifikasi bahwa AS tidak melakukan serangan udara dalam mendukung Operasi Perisai Eufrat (Euphrates Shield) di al-Bab. Penundaan operasi di Raqqa telah memberikan keuntungan untuk DAESH menyerang tentara Turki.

AS menunda operasi di Raqqa dan juga menangguhkan operasi di Mosul, yang sebelumnya sedang dilakukan AS dengan dukungan dari YPG.

Koalisi anti-DAESH terdiri dari 13 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia, Kanada, Belgia, Denmark dan Belanda.

Namun, semua negara-negara ini tidak aktif melawan DAESH sejak Turki yang didukung FSA melancarkan Operasi Euphrates Shield pada tanggal 24 Agustus 2016.

Yeni Safak DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment