Mengapa Negara-Negara Arab Ingin Tutup Al Jazeera?


*Philip Seib

5 Juni, 4 negara Arab, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir menyatakan perang lunak atas Qatar.
Mereka punya dafatar panjang tuntutan, yang memerintahkan Qatar untuk memutuskan hubungan dengan Iran, mengusir pasukan militer Turki dari negaranya dan mengambil langkah-langkah lain yang dibutuhkan untuk mengurangi pengaruh regional Qatar.

Mereka juga menuntut Qatar untuk menutup Al Jazeera, jaringan media yang dibiayai pemerintah Qatar yang selama bertahun-tahun bersikap kritis terhadap pelbagai rejim Arab. Sejauh ini, pemerintah Qatar menolak tekanan untuk menutup jaringan berita ini.

Saya telah mempelajari dan menulis tentang Al Jazeera sejak awal berdirinya, kadang dengan keprihatinan dan kadang dengan pujian.

Buku saya pada 2008, “The Aljazeera Effect” mengeksplorasi pentingnya TV satelit regional di dunia Arab dan sekitarnya.

Meskipun sikap politik Al Jazeera tetap kontroversial, saya percaya upaya menutup jaringan ini akan memperlemah eksistensi pers bebas -khususnya di kawasan yang dimana demokrasi masih langka.

Ketika Al Jazeera diluncurkan pada 1996, media ini mengguncang lanskap media Arab.

Paling penting ketika ada cerita besar di dunia Arab, semacam intifadha kedua, yakni perlawanan bangsa Palestina atas pendudukan Israel, pemirsa Arab tidak lagi harus berpaling ke media Barat untuk mendapatkan analisis tentang apa yang terjadi.

Sebaliknya, mereka melihat para reporter Arab yang meliput berita dengan perspektif Arab. Al Jazeera berbahasa Inggris, yang didirikan pada 2006, membanggakan diri dalam peliputan berita dan perspektif yang lebih Selatan ketimbang kantor berita lainnya. Pada saat ini, berita TV yang dikendalikan pemerintah menjadi standarnya. Mereka memuat berita dengan standar produksi yang rendah. Tiba-tiba, ada saluran yang menawarkan peliputan berita yang relatif tidak ada sensor atas politik kawasan seperti halnya saluran berita barat seperti BBC dan CNN.

Lebih luas lagi, saluran ini menjadi kontroversial karena peliputannya atas perang Amerika di Afghanistan dan Irak. Pemerintah George Bush menganggap peliputan media bersifat provokatif karena mengungkap kematian warga sipil dalam jumlah besar dalam konflik-konflik tersebut. Pemerintah AS menuduh Al Jazeera memicu perlawanan terhadap AS di kawasan tersebut.

Namun, pendekatan pan Arabik dan bebas juga menjadi sumber kemarahan para penguasa Timur Tengah yang lebih suka mengendalikan berita yang sampai kepada rakyatnya. Al Jazeera melaporkan secara kritis tentang pemerintah, khususnya mereka yang bermusuhan terhadap Qatar. Program talk show mereka mendebatkan tema-tema seperti agama dan perempuan sedemikian rupa yang merefleksikan kebebasan berpendapat di dunia Arab.

Dua dekade kemudian, sejarah tersebut tetap releban. Namun, tetap ada batasan bagi jurnalisme Al Jazeera. Meskipun, Al Jazeera banyak mempertanyakan klas penguasa di banyak negara Arab, Al Jazeera tidak meliput Qatar dengan derajat yang sama. Alih-alih, saluran ini dilihat sebagai bagian de facto alat kebijakan luar negeri Qatar.

Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab secara khusus marah dengan Al Jazeera dan pemiliknya, Qatar sejak pergolakan Arab Spring 2011. Mereka memandang Al Jazeera simpatik terhadap para pemrotes dan menganggap jaringan ini mengobarkan api pemberontakan yang mengancam kekuasaan monarki mereka.

Al Jazeera juga meliput positif Ikhwanul Muslimin, yang membuat presiden Mesir Abdel Fatah al Sisi yang merancang kudeta presiden Muhammad Mursi marah. Setelah kudeta, Al Jazeera tetap melaporkan secara kritis negara-negara Arab.

Ada benarnya memang bahwa Al Jazeera Arab pro Islamis dalam pemberitaannya. Musuh Qatar mengatakan bahwa peliputan berita Al Jazeera tidak hanya mendukung Ikhwanul Muslimin, namun juga kelompok-kelompok yang tergabung dengan Al Qaeda di Suriah dan Yaman.

Qatar bersikap tegas bahwa tuntutan Arab Saudi dan sekutunya adalah pelanggaran kedaulatan. Bahkan sekalipun Qatar berkompromi atas tuntutan mereka, namun tidak mungkin negara itu akan menutup Al Jazeera. Jaringan ini adalah salah satu prestasi besar Qatar, media yang dapat menganggapkan negara kecil menjadi kekuatan global selama dua dekade.

Pesaingnya utamanya datang dari Al Arabiya, yang merefleksikan pandangan pemiliknya Saudi dan mungkin akan menjadi kantor berita Arab yang dominan seandainya Al Jazeera tidak ada. Ada sumber berita penting lainnya seperti Sky News Arab yang dimiliki keluarga kerajaan UEA, dan disisi lain spektrum ideologis, Al Manar yang menjadi corong Hizbullah Syiah Lebanon. Al Jazeera bukanlah media monopoli di kawasan ini, jauh dari dugaan seperti itu.

Kompetisi ini telah memotong bagian pasar Al Jazeera berikut pengaruhnya. Namun, Al Jazeer adalah sasaran bagi musuh-musuh Qatar karena saluran ini telah menjadi media mengangkat pengaruh Qatar di mata dunia. Disamping itu, selain Al Jazeera Arab, ada Al Jazeera Inggris dan Balkan. Al Jazeera memproduksi sejumlah program dokumenter dan laporan khusus.

Al Jazeera tentu jauh dari sempurna, namun bagi mereka yang menghendaki dunia Arab yang lebih demokratis, jaringan ini telah menjadi pionirnya dan menyerukan kelemahan stempel otokratik dalam diskusi rakyat. Seperti dibelahan dunia lainnya, masyarakat Arab sangat menikmati perdebatan dan pelbagai pandangan berbeda.

Timur Tengah telah memiliki banyak masalah, namun mereka tidak dapat mundur kebelakang dengan pembatasan atas kebebasan media.





 Dosen Universitas Southern California, Annenberg School for Communication and Journalism DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment