Krisis Qatar dan Realitas Arab Sunni di Timur Tengah


F. Gregory Gause III

Krisis yang terjadi diantara negara-negara monarki Teluk, embargo Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) atas Qatar mungkin dalam diredakan dalam jangka pendek, namun sulit diselesaikan dalam jangka panjang. Mediasi Kuwait dengan dukungan Amerika mungkin akan berunjung kompromi untuk menyelamatkan muka mereka.

Bagi mereka yang menelisik krisis regional di Timur Tengah sekarang ini melalui kaca mata sektarian, akan mendapati bahwa pembelaan Iran terhadap Qatar menjadi contoh lain konflik sektarian Sunni versus Syiah.

Konflik yang mendasari tindak semata tentang Iran, namun cara pandang yang berbeda tentang bagaimana politik Islam seharusnya diterapkan diantara negara-negara Sunni di Timur Tengah. Qatar, Uni Emirat Arab dan Saudi semuanya adalah negara mayoritas Sunni dan diperintah oleh monarki Sunni, namun memiliki banyak pandangan berbeda dalam isu ini. Turki dan Mesir adalah dua negara Sunni besar juga memiliki pandangan yang berbeda.

Saya berpendapat bahwa ketidakmampuan negara-negara Timur Tengah yang Sunni membentuk aliansi efektif melawan Iran berakar dari perbedaan mendasar mereka tentang karakter dan sifat ancaman yang mereka hadapi.

Qatar dan Turki, UEA, Mesir dan  Arab Saudi merepresentasikan 3 negara dengan posisi berbeda atas masalah tersebut. Krisis Qatar adalah satu-satunya manifestasi konflik di dalam Sunni yang paling jelas dan tegas.

Qatar dan Ikhwanul Muslimin

Qatar mendukung bangkitnya Ikhwanul Muslimin di seluruh dunia Aran jauh sebelum Arab Spring, dengan memberikan dukungan dana bagi gerakan ini di kawasan Timur Tengah, menjadi tempat aman bagi para pelarian Ikhwanul Muslimin, seperti Syaikh Yusuf al Qaradhawi dan pemimpin Hamas, Khalid Meshaal serta mendorong platform politik dan elektoral kelompok Islamis Sunni melalui saluran satelit Al Jazeera.

Pandangan Islamis populis, meskipun bukan demokrasi liberal, berupaya mendapatkan kekuasaan melalui jalan pemilu. Visi ini didukung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang melihat sukses Ikhwanul Muslimin setelah Arab Saudi berpotensi terciptanya blok yang sama di Turki dengan dirinya sebagai kepala negara.

Suriah pos Assad akan menjadi anggota berikutnya blok Turki. Inilah yang melatari mengapa Erdogan sebagai pemimpin regional pertama menyerukan Assad untuk mundur.

Kepemimpinan Agama Arab Saudi

Arab Saudi merepresentasikan antitesis Islamis populis, yakni Sunni Islam bawah atas (Bottom Up). Monarki ini menjadikan kelompok Salafi Wahabi sebagai partner dalam mendukung pemerintahannya.

Tokoh-tokoh agama di Arab Saudi adalah birokrat yang mendukung interpretasi Islam yang puritan dan xenophobic serta mengembangkan interpretasi keagamaan yang mendukung monarki dengan mewajibkan taat kepada pemimpin Muslimin. Ini sejenis Islam Atas Bawah (Top Down), bukan bottom up Islam politik.

Islam Top Down Dalam Perbatasan

UEA, sementara bersekutu dengan Arab Saudi, sebenarnya merepresentasikan trend ketiga dalam Islam politik. Islam Resmi di Emirat terikat ketatr dengan negara dan tunduk kepada monarki. Tidak seperti di Arab Saudi, Emirat tidak punya ambisi menyebarkan Islam di luar perbatasannya. Kebalikannya, mereka mendukung kelompok anti Islamis di Mesir, Libya dan belahan negara lainnya. Ini adalah Islam Tpo Down, namun hanya di negaranya saja.

Mereka kemudian bergabung dengan rejim Mesir, yang dulunya menjadi pusat politik Arab, namun karena masalah politik dan ekonominya, negara ini kini lebih menjadi pengikut ketimbang pemimpin. Pusat pengajaran Sunni di Kairo, Al Azhar tentu punya ambisi lintas batas. Namun mereka tidak punya kemampuan ekonomi untuk menantang pelbagai institusi yang dibiayai Saudi dalam menyebarkan Islam salafi ke seluruh dunia.

Menarik dicatat bahwa UEA membuat banyak tawaran kepada Al Azhar, karena ingin menandingi penyebaran Salafisme global dan sepak terjang Ikhwanul Muslimin untuk kepentingan Islam yang lunak.

Konflik Ideologi dalam Kawasan

Jika ditambah dengan posisi militan Islamis Salafi yang diwakili ISIS dan Al Qaeda, konflik ideologi dalam dunia Sunni menjadi semakin pelik. Mereka memiliki kesamaan dalam interpretasi Islam yang puritan dengan Arab Saudi, namun membenci penguasa Saudi karena dianggap menjual diri ke AS.

Mereka ini adalah gerakan populis bottom up, namun menolak jalan elektoral yang ditempuh partai Erdogan dan Ikhwanul Muslimin. Islam Negara dalam perbatasan regional yang ada adalah antitesis dari pesan mereka tentang umat Islam yang bersatu. Oleh karena itu, ISIS dan Al Qaeda menyerang pemerintah Turki, Saudi dan Mesir dalam banyak kesempatan.

Negara-negara Sunni tidak dapat bersatu padu karena, meskipun mereka sama-sama khawatir terhadap sepak terjang Iran, namun mereka melihat satu sama lain sebagai ancaman  potensial jika bukan aktual, ancaman terhadap stabilitas domestik. Oleh karena itu, negara-negara Teluk melihat Qatar dan Turki sebagai musuh domestik mereka.

Itulah mengapa Kairo dan Abu Dhabi bersikeras bahwa Qatar harus menutup Al Jazeera. Saudi khawatir bahwa Qatar yang sebenarnya memiliki pandangan Islam yang sama, Salafi Wahabi ikut campur dalam politik domestik mereka dengan mendukung kelompok-kelompok oposisi.

Mesir tidak ingin berada di belakang Arab Saudi dalam upayanya untuk menurunkan Bashar al Assad di Suriha karena takut kelompok-kelompok Islamis seperti Ikhwanul Muslim dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Arab Saudi memiliki hubungan sejarah dengan Ikhwanul Muslimin, namun kini menjauhi Ikhwan dan melihat eksistensi gerakan populis tersebut sebagai ancaman domestiknya.

Turki khawatir tekanan yang sukses atas Qatar akan berbalik kepada dirinya. Turki dan Arab Saudi sendiri berada dalam sisi yang sama dengan ISIS dan Al Qaeda dalam perang regional di Suriah maupun Yaman, namun mereka tidak dapat mengendalikan ataupun mempercayai para militan Salafi yang hendak menggulingkan mereka di dalam negeri.

Maka visi Presiden Trump tentang dunia Sunni bersatu dibawah kendali AS untuk melawan Iran dan terorisme tidak mungkin terjadi sepanjang para rejim Sunni di Timur Tengah memiliki sudut pandang yang berbeda tentang hubungan Islam dan politik. Di Timur Tengah yang didominasi konflik sektarian Sunni-Syiah, kelompok Sunni senditi tidak punya sikap yang sama.





Gregory Gause III  profesor hubungan internasional di John H. Lindsey ’44 Chair, Bush School of Government at Texas A&M University. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment