Mantan Ketua Hizbut Tahrir Indonesia : Pemilu Bukan Pesta Demokrasi tapi Momentum Rebut Kekuasaan


Sabtu tengah malam Ahad 8 Maret 2014 di sebuah lapangan perumahan di bilangan Bojong Gede Bogor. Suara Imam Besar FPI Habib Rizieq, Singa Podium Utama negeri ini, begitu lantang mengajak umat Islam agar memenangkan Islam pada pemilu 2014 ini. Agar umat Islam jangan masa bodoh. Agar umat Islam sadar bahwa pemilu bukan pesta demokrasi, tapi pertarungan perebutan kekuasaan. Sebab, kalau umat Islam meleng, tidak waspada, kekuasaan bakal direbut orang lain.

Kepada mereka yang masih ributk tentang status pemilu dalam sistem demokrasi, halal apa haram?, Habib menegaskan “Rebut dulu baru ribut!”.

“Kalau kita ribut terus, lupa merebut kekuasaan, akhirnya kekuasaan direbut orang-orang liberal, orang-orang kafir, orang-orang munafik, dan orang-orang fasik!”.

Kalau mereka berhasil merebut kekuasaan legislatif dalam pemilu 9 April nanti, merekalah yang akan menentukan UU yang mengatur kehidupan kita ke depan. Padahal hari ini sudah antri berbagai RUU yang bertentangan dengan syariah, yang membahayakan kehidupan umat. Di antaranya adalah RUU kesetaraan gender yang salah satu pasalnya berbunyi: “Barang Siapa membedakan lelaki dan perempuan atas dasar gender, akan dipidana penjara...”. Padahal dalam Alquran Allah SWT menetapkan pembagian waris antara anak lelaki dan perempuan adalah dua banding satu.

Habib Rizieq adalah seorang orator ulung. Walau sudah lewat jam 12 malam, ribuan orang tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Mereka menikmati uraian-uraian dan dialog tanya jawab Habib Rizieq yang cerdas dan mencerdaskan. Habib Rizieq mengatakan “Jika kaum liberal, kaum kafir, kaum munafik, dan kaum fasik menang dalam pemilu dan menguasai kursi di DPR, maka mereka akan mengundangkan RUU tersebut. Kalau nanti RUU tersebut disahkan sebagai undang-undang, maka jika suatu saat nanti seorang perempuan datang ke Imam Masjid lalu minta kepada Imam Masjid agar Jumat depan dia diperkenankan menjadi khatib Jumat, lalu dicegah dan dilarang oleh Imam Masjid karena bertentangan dengan syariah, dan perempuan tersebut lapor polisi karena dirinya dibeda-bedakan atas dasar jenis kelamin, maka Imam Masjid tersebut bisa ditangkap dan dipenjarakan!."

Tentu UU seperti itu sangat berbahaya. Oleh karena itu, Habib meminta umat Islam agar jangan menyerahkan kekuasaan kepada kaum liberal, kafir, munafik, dan fasik. Habib mengatakan bahwa beliau dan seluruh muballigh FPI akan all out berkampanye mencegah hal itu jangan sampai terjadi.

Beliau menegaskan bahwa beliau tidak pernah mencalonkan diri sebagai Capres ataupun Caleg. Dan beliau tidak berkampanye untuk partai tertentu atau perorangan. Tapi beliau berkampanye untuk menangkan Islam. Beliau meminta umat Islam untuk memenangkan para caleg Syariah yang sudah bersumpah dan bertekad akan berjuang untuk mengundangkan syariah dan mengamandemen UU yang bertentangan dengan syariah serta bertekad mewujudkan NKRI Bersyariah.

Kita angkat topi dengan kejernihan berfikir Habib Rizieq Syihab serta ketulusan, kerendahan hati, dan tekad juang beliau untuk memenangkan Islam. Alangkah bagusnya kalau fikiran dan langkah beliau ini diikuti oleh para pimpinan ormas dan lembaga Islam serta para alim ulama dan habaib se Indonesia sehingga kemenangan Islam akan terwujud nyata.

Memang selama ini umat Islam bahkan tokoh-tokohnya banyak yang terkecoh oleh agen-agen kapitalisme Barat yang ingin terus melestarikan hegemoni mereka di Indonesia.

Para antek pengemban dan penjaga ide-ide demokrasi selalu menipu rakyat dalam setiap pemilu dengan istilah: “Pesta Demokrasi!” Berbagai poster dan umbul-umbul dipasang dan berbagai acara digelar untuk memeriahkan pesta demokrasi. Saking meriahnya bak lebaran yang merupakan hari raya umat Islam, penduduk mayoritas negeri ini. Kosakata pesta demokrasi ini sudah sekian lama disosialisasikan di masa Orba dengan jargon membuai: “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat!”.

Namun itu jargon kosong. Faktanya kekuasaan rakyat dirampas melalui pemilu, rakyat hanya ditipu dengan keramaian pestanya. Kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh rezim Orba yang selalu menginstruksikan para Babinsa anggota TNI untuk menggiring dan menakut-nakuti rakyat dan PNS agar coblos Golkar. Mayoritas kue pembangunan dinikmati kroni-kroninya, yaitu keluarga Cendana dan para taipan keturunan Cina. Tumbangnya Rezim Orba tidak mengembalikan kekuasaan kepada rakyat yang mayoritas muslim.

Euforia reformasi dan demokratisasi ternyata menghasilkan kerusakan mental rakyat dan pejabat yang luar biasa akibat suap alias money politic. Kini mencuat istilah “wani piro” yang sudah membudaya di mana-mana. Rakyat banyak yang kehilangan akidah politiknya. Semurah harga mereka dimurtadkan, semurah itu pula mereka menyerahkan kekuasaan kepada kaum kafir, padahal Allah Swt melarangnya (QS. An Nisa 141).

Dengan budaya wani piro, mereka bisa membeli 120 juta suara dari 180 juta suara DPT (golput 30%) @Rp100 ribu, dengan Rp 12 triliun saja. Seorang taipan yang dapat proyek 120 T cukup menyisihkan 10 % dari nilai proyeknya. Kabarnya baru-baru ini di Singapura ada pertemuan 400 CEO dengan seorang jenderal yang mempresentasikan capres dukungan mereka. Apakah kita akan diam menonton mereka merebut negara kita? Kenapa kita tidak rebut untuk menegakkan syariah-Nya?.

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment