Ternyata Masih Ada Pegawai Pajak yang Jujur, Ini Buktinya


Maraknya kasus korupsi maupun suap dikalangan aparatur negara membuat masyarakat Indonesia seakan kehilangan harapan.

Semoga sebuah catatan sederhana ini dapat memberikan sebuah harapan terhadap negeri ini, catatan tentang seorang pegawai pajak yang menolak uang suap.

    Kejadian ini terjadi pada hari selasa kemarin 6 Mei 2014, saya kedatangan tamu, seorang pegawai dari sebuah perusahaan yang sedang saya periksa restitusi pajaknya. Jumlah restitusinya cukup besar untuk ukuran kantor kami yang berada di remote area of Indonesia ini. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, basa-basi kesana dan kemari, akhirnya tibalah obrolan itu ke tema yang sedikit serius: progres pemeriksaan. Saya menjawab apa-adanya perihal progres, menjawab dan merespon pun juga apa-adanya.

    Diawali dengan kata-kata "deal" yang diucapkan oleh orang itu -- yang sudah saya paham apa maksudnya --, obrolan kami pun jadi merembet ke soal lain yang tak ada korelasinya dengan tema besar bernama "progres pemeriksaan" di atas. Saya mencoba untuk mendengarkan dan menyimak argumentasi yang diberikannya. Soal "bagi-bagi rejeki", soal "saya ikhlas memberi kepada bapak", soal "tidak ada komitmen lanjutan", dan soal-soal lain yang biasa ada dalam lika-liku dunia di balik meja. Awalnya saya cukup terkejut dengan, katakanlah, penawaran itu, meski ini bukan momen pertama selama hidup saya menjadi pemeriksa pajak kelas teri. Itu karena saya kira hal-hal semacam ini sudah jadi barang lama yang sudah seharusnya kami tinggalkan jauh ke belakang, apalagi setelah era reformasi birokrasi di instansi kami beberapa periode yang lalu. Tapi ternyata tidak juga.

    Jadi selanjutnya bagaimana?

    Jadi, yang pertama kali saya lakukan ketika itu adalah berterima-kasih kepadanya dan menghargai niat baiknya. Saya lalu menjelaskan sikap lanjutan saya terhadap "niat baik" itu dan berharap bahwa pekerjaan ini akan dianggap selesai ketika LHP saya selesai dan Wajib Pajak sudah mendapatkan hak restitusi pajaknya. Sudah cukup sampai di situ saja. Adapun soal relasi personal terkait "itu" maka saya mencukupi diri dengan apa yang sudah saya dapatkan dari negara dan tidak meminta lebih dari penawaran yang telah diberikannya.

    Mungkin saya naif, bisa jadi saya dibilang sok suci, sok bersih, sok ini sok itu dan sok-sokan yang lain lah, tapi itu tidak masalah bagi saya. Tak perlu banyak peraturan ini dan itu, tak perlu wejangan dari KPK dan kroni-kroninya perihal perilaku koruptif yang harus saya hindari, saya sudah mengerti bahwa saya sebenarnya bisa saja menerima "niat baik" itu dengan dalih "Tidak ada komitmen lanjutan", tapi ternyata saya tidak bisa membohongi kata hati saya dan dengan mantap memutuskan bahwa menerima "niat baik" itu adalah salah dan tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Saya teringat dengan sebuah hadits Nabi perihal meminta fatwa hati ketika dilanda keraguan dalam menyikapi suatu perkara, dan saya sudah melakukannya.

    Saya memang bukan pegawai yang completely clean, saya bukan pegawai teladan di kantor, silakan tanya teman-teman di kantor soal kelakukan minus yang kadang saya tampilkan saat bekerja dan segudang reputasi minor saya yang lain. Saya pernah berbuat salah, saya sering tidak cakap bekerja. Situasi keuangan saya juga tidak bagus-bagus amat ketika itu. Tapi soal tema "itu" saya sudah punya sikap sendiri yang saya yakini sejak lama. Meski respon yang saya berikan dalam situasi berbeda juga akan berbeda-beda, tapi intinya tetap sama: saya tidak akan mau menikmati uang seperti "itu". Saya yakin, bukan saya sendiri yang punya sikap seperti itu saat menghadapi situasi seperti di atas. Kedua rekan saya di ruangan pun juga punya sikap yang sama meski mungkin ada perbedaan dalam merespon dan bereaksi. Oleh karenanya, saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik, orang-orang yang tetap menjaga idealisme dalam bekerja, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang kami miliki.

    Lalu, apa maksud tulisan ini? Apakah saya mau pamer dengan apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya ingin menunjukkan kepada Anda bahwa saya ini aparat yang bersih dan tidak mau kompromi, begitu?

    Saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda yang masih menyimpan pesimisme berlebihan terhadap masa depan bangsa ini bahwa harapan (ke arah yang lebih baik) itu masih ada. Saya ingin berkata bahwa saya dan teman-teman seinstansi saya memang tidak akan pernah menjadi aparat pajak yang sempurna, tapi saya yakin bahwa kami punya tekad yang kuat untuk membawa masa depan negara ini ke arah yang lebih baik, dengan kekurangan dan kelemahan yang kami punya. Saya yakin, Anda pun punya tekad yang sama dengan kami meski mungkin antara Anda dan kami punya perbedaan sudut pandang dan titik fokus kerjanya.

    Demikian, dan mohon maaf.

    Tertanda


    Buruh Negara Golongan Rendah

www.islamedia.co DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment