Cara-cara Hipnotis Pendukung Jokowi


Oleh : Saefuddin Sae

Sudah sekian kali saya menulis di kompasiana tentang Jokowi dengan berbagai fakta dan data, tujuan utama saya adalah agar publik mengetahui siapa sesungguhnya sosok Jokowi yang akan digadang gadang sebagai capres. Kehadiranya yang tiba tiba dan eksotis, tidak hanya membuat publik dan para pengamat kaget, tapi juga ingin lebih tahu banyak tentang Jokowi. Bermodalkan walikota Solo, mobil esemka dan gubernur DKI tidak semuanya benar sebagaimana yang di opinikan media, bahkan blusukkan sangat melekat pada sosok Jokowi dan seolah tidak ada lagi kepala daerah lain atau politikus lain yang melakukan hal yang sama atau lebih dari Jokowi.

Mediapun turut larut dalam sosok Jokowi termasuk pengamat serta lembaga survei yaitu untuk membloup Jokowi habis habisan. Bahkan dalam pemilu 2014 ini dengan perolehan suara PDIP yang tinggi melalmpui partai lain di indikasikan ditempuh dengan cara cara tidak wajar( dimedia sosial sudah banyak beredar).

Jokowi, PDIP dan seluruh pendukungnya seharusnya tidak kecewa, tersinggung dan marah jika Jokowi menjadi bahan pembicaraan dimana mana, karena itu konsekuensi dalam berpolitik.

Baik yang mendukung dan tidak mendukung Jokowi seharusnya sama sama dalam koridor tetap bersahabat bukan sebaliknya saling serang.

Saya memiliki kenyakinan besar, bahwa yang sering me ngudara di sosial media tidak terlepas dari bagian organ Jokowi. Bahkan mereka melerakan waktu, pikiran, tenaga bahkan kalau perlu nyawa untuk Jokowi. Demikain hanlnya pihak yang kontra terhadap Jokowi juga melakukan hal yang sama.

Cara Pendukung JW di Sosmed

Pendukung fanatik calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo di dunia maya dinilai menggiring opini publik yang bertujuan agar Jokowi tidak pernah salah di mata publik.

Pendukung fanatik Jokowi yang kemudian menimbulkan istilah baru yakni pasukan nasi bungkus (panasbung), dinilai Emrus Sihombing tidak mengedepankan aspek moral dalam berpolitik. Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) itu mengatakan adanya akun bayaran pendukung Jokowi di media sosial sebagai bentuk penggiringan opini publik untuk tujuan tertentu.

“Kalau memang akun-akun di media sosial seperti di twitter itu dikendalikan, berarti ada maksud tertentu menggiring opini publik. Harusnya ketika berpolitik, tidak boleh lepas dari moral. Seharusnya dalam memperoleh kekuasaan itu netral, tidak ada penggiringan,” ujar Emrus.

“Satu orang membawahi banyak akun di media sosial, itu sama saja dengan kebohongan publik. Sepertinya banyak orang yang berkomentar, padahal hanya dikendalikan satu orang supaya terbentuk opini,” lanjutnya.

Direktur Lembaga Emrus Corner itu memaparkan penggiringan opini publik yang dilakukan akun bayaran pendukung Jokowi tak jauh beda dengan money politics. Apalagi setelah beredar informasi, akun yang biasa berkomentar untuk mendukung Jokowi dan menjelek-jelekkan capres lain itu ternyata menerima gaji.

“Apalagi seperti itu (pendukungnya menerima gaji). Itu tidak jauh beda dengan menghalalkan money politics. Seharusnya gerakan masyarakat itu natural, tidak ada penggiringan,” tuturnya.

“Ini sama saja dengan politik mobilisasi Hitler. Bedanya, mobilisasi Hitler saat itu dilakukan dengan ancaman. Pergerakan lewat media sosial seperti itu (akun bayaran), menghalalkan money politics,” imbuhnya.

Sebelumnya, beredar kabar tim pendukung Jokowi membentuk semacam jaringan udara yang bergerak melalui jaringan internet. Mereka masuk melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter serta banyak media massa online.

Bahkan, kabarnya mereka menarik banyak orang untuk dilibatkan dalam serangan udara tersebut. Sebagian besar dibayar sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per kepala hanya untuk membuat ramai dunia maya dengan isu-isu soal Jokowi.

“Kebanyakan itu penjaga toko, penjaga gerai telepon seluler, ada juga yang tukang becak,” ujar salah seorang sumber saat berbincang dengan Tribun.

Apapaun cara yang ditempuh tidak ada masalah, tapi cara akan meberikan konsekuensi terhadap hasil. Dalam peperangan yang diperbolehkan adalah melakukan pengelabuan/mengelabui, namun sangat dilarang melakukan kebohongan.

Karena kebohongan identik dengan tidak jujur.Tidak jujur akan berujung pada permasalahan besar. Apakah bangsa ini akan dikelola dengan cara cara bohong dan tidak jujur?jika ini benar benar terjadi, maka MALA PETAKALAH INDONESIA. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment