Titip Rindu Buat Pak Tito


Dulu, Setiap kami mau demo, wajah Pak Tito kerap menghiasi media masa. Media mengutip setiap ucapan bijak Bapak.

Demo boleh tapi jangan menggangu ketertiban. Jangan mengganggu hak orang lain. Jangan merusak fasilitas umum. Jangan mengumbar ujaran kebencian. Jangan lewat dari pukul 18.00. Polisi akan bertindak tegas jika terjadi pelanggaran demo. Walaupun Bapak tidak mengatakan jagalah kebersihan, kami tetap menjaganya.

Jangan mengajak peserta dari luar kota. Lalu anak buah Bapak mencegat setiap kendaraan umum dari luar kota. Memeriksa kemungkinan ada pendemo yang akan datang ke ibu kota.

Sekarang, dikabarkan pendemo menyebabkan kemacetan panjang. Polisi sudah mengimbau agar jangan sampai lewat pukul 18.00 tapi tak didengarkan. Tak bisa diambil tindakan karena banyak wanita dan anak-anak ( jadi boleh ya demo bawa anak-anak? Kami juga begitu sih…) Dikhawatirkan akan banyak korban. Kami juga kalau kena gas air mata sama rasanya.

Media mengutip para tokoh dengan bangga mengatakan, peserta demo bukan hanya warga Jakarta, tapi juga banyak yang datang dari luar kota. Tidak ada penghadangan. Tidak ada imbauan.

Kami menanti wajah Bapak muncul di media. Kami kangen imbauan bijak Bapak yang dulu kami jadikan pegangan. Kami rindu, kira-kira apa yang akan Bapak katakan?

Angin, titip rindu buat Pak Tito.

(Balya Nur) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment