Dalam rekaman wawancara yang tersebar di Facebok, Ya’alon menegaskan, “Apa yang kami khawatirkan hingga musim panas lalu adalah kami akan menyaksikan Musim Semi Islam akan tetapi justru ‘rakyat mengisolasi Ikhwanul Muslimin’ di Mesir dan itu kejadian sangat penting.
Ya’alon menambahkan, apa yang disebut Musim Semi Islam akan meluas ke sejumlah negara Arab di kawasan dan rezim-rezim di sejumlah di negara tersebut mengkhawatirkan hal yang sama. Ia menandaskan bahwa setelah 30 Juni saya mampu mendengar membebaskan dari beban di sejumlah negara di kawasan Arab seperti Amman dan Riyadl serta negara Teluk. Negara-negara itu ketakutan terhadap Ikhwanul Muslimin seperti gelombang baru yang menguasai Timur Tengah bagian dari islamisasi.
Ya’alon melanjutkan, “Jika kita kembali kepada keberhasilan revolusi Iran di tahun 1979, munculnya Hizbullah di Libanon dan munculnya Hamas dan ini bukan kebetulan setelah itu pada 80-an di Palestina. Ini membuktikan Ikhwanul Muslimin semakin kuat. Sudah tentu unsur-unsur Al-Qaidah semakin kuat yang keluar dari sekolah Wahabi Sunni yang telah melahirkan Jihad Global.”
Di akhir rekaman Yaalon mengatakan, “Pembicaraan di musim panas lalu adalah pukulan keras bagi perasaan bahwa Islam adalah solusi (ia mengatakannya dengan bahasa Arab) dan Islam adalah akhir sesuatu karena itu. Kita akan menghadapi tanpa ragu instabilitas akan menjadi akut di kawasan Timteng di tahun-tahun mendatang di sejumlah tempat. (bsyr/pip)

0 komentar:
Post a Comment