Istana Mulai Ancam Pihak Yang Menolak Berdirinya Patung Ilegal Jendral China di Tuban


Setelah dalam satu pekan terakhir publik dihebohkan dengan pendirian patung Dewa Perang China Kongco Kwan Sing Tee Koen, pihak istana akhirnya ikut berkomentar terkait patung kontroversi di Tubat tersebut.

Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki menilai pihak yang mempermasalahkan patung sebagai tindakan intoleransi.

"Banyak hal-hal yang dulu tidak jadi masalah, kita rukun-rukun saja, duduk bersama dalam perbedaan, dalam kehidupan sehari-hari berbeda dalam politik dan kehidupan bernegara, kok ini sekarang menjadi masalah," ujar Teten di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

"Ini suatu fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi bahwa memang terjadi perubahan nilai di masyarakat," lanjut dia.

Teten mencontohkan penolakan kelompok masyarakat tertentu atas berdirinya patung raksasa tanpa izin dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Jawa Timur.

Ribuan orang dari berbagai elemen menggelar aksi protes di depan gedung DPRD Jatim. Mereka mendesak agar patung tersebut segera dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.

Teten menegaskan, negara tidak boleh tinggal diam merespons fenomena ini. Negara harus menempatkan seluruh warganya pada kedudukan yang sama. Jika ada persoalan, hukumlah yang ditegakkan. Bukan dengan cara main hakim sendiri.

"Jadi setiap ada tindakan intoleransi atau tindakan semena-mena, misalnya menghancurkan patung, benda seni dan sebagainya, harus dilakukan tindakan hukum," ujar Teten seperti dikutip dari kompascom

Agaknya Teten lupa bahwa toleransi bukan berarti selalu menuntut pihak mayoritas untuk dapat menerima kelompok keinginan minoritas. Tapi kelompok minoritas juga harus menghormati kelompok mayoritas sehingga terjadilah saling sinergi antara kedua pihak.

Entah sengaja atau pura-pura lupa Teten bahwa patung jendral China tersebut Ilegal dan dibangun tidak memiliki izin dari Pemda setempat.

Patung Raksasa di Kelenteng Tuban Ternyata Belum Kantongi Izin

Patung dewa raksasa di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban jadi heboh di medsos dengan bumbu macam-macam. Ternyata masalahnya belum ada izin dari pemda.

Meski belum berizin, patung dewa Kong Co Kwan Sing Tee Koen telah berdiri gagah di sebelah selatan lokasi area parkir kompleks kelenteng. Patung yang menghabiskan dana Rp 2,5 milyar ini berdiri menjulang ke langit setinggi hampir 30 meter, dengan didominasi warna hijau dan kuning emas serta coklat. Seperti dikutip dari detikcom

Link: https://news.detik.com/berita/3582398/patung-raksasa-di-kelenteng-tuban-ternyata-belum-kantongi-izin

Bukankah sesuatu yang dibangun harus diproses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku?. Seperti rakyat kecil yang tidak memiliki sertifikat tanah yang harus kehilangan tempat tinggal mereka karena digusur.

Kita jadi heran kenapa pihak istana dalam hal ini Staf kepresidenan seperti Teten membela sebuah kesalahan pelanggar hukum yang sudah terang dan nyata dan malah mempersalahkan rakyat sendiri yang menegakkan aturan di negri ini.

Seharusnya pihak istana membela kebenaran dan berdiri bersama rakyat sendiri bukan membenarkan kesalahan menjadi sebuah kebenaran.[kompas/detik/portal-islam/fatur] DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. "Banyak hal-hal yang dulu tidak jadi masalah, kita rukun-rukun saja, duduk bersama dalam perbedaan, dalam kehidupan sehari-hari berbeda dalam politik dan kehidupan bernegara, kok ini sekarang menjadi masalah," ujar Teten.
    "Dulu kan gak ada pembangunan patung jendral asing di sini, apalagi diera Pak Harto. Sekarang aja di era rezim INI

    ReplyDelete