Iran Memanipulasi Isu Palestina Sambil Menyembunyikan Penjajahannya di Ahwaz


Rezim Iran sering memprotes dan mengutuk penjajahan Israel atas tanah dan rumah orang-orang Palestina serta pengusiran orang-orang Palestina. Rezim Iran juga mengatakan bahwa tindakan-tindakan itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan merupakan pembersihan etnis yang sistematis. Rezim syiah Iran membuat argumen secara rutin dan gencar bahwa masyarakat internasional harus mengambil tindakan melawan penjajahan Israel dan menjatuhkan sanksi ke pemerintah zionis Israel.

Namun, rezim Iran melakukan sendiri kejahatan dengan cara yang memiliki kesamaan yang sangat mencolok dengan pemerintah Israel. Iran secara paksa mengambil alih tanah, peternakan dan rumah orang-orang Arab Ahwaz di provinsi Khuzestan di Iran barat daya, dan memberikan tanah-tanah tersebut kepada pemukim Persia yang mendapat insentif finansial dari rezim untuk pindah ke daerah tersebut. Tindakan ini tidak berbeda dengan perlakuan pemerintah zionis ke pemukim Israel di tanah Palestina.

Kebijakan rasis anti-Arab

Hanya dalam beberapa minggu, pihak berwenang Iran telah menyita 20.000 hektar lahan pertanian dari petani Ahwaz di daerah dekat ibukota Ahwaz. Seperti biasa, petani dan keluarganya tidak diberi pemberitahuan atau kesempatan untuk mengajukan tuntutan hukum atas ketidakadilan yang kasar ini. Tanah tersebut direncanakan akan digunakan untuk proyek penanaman dan pengolahan tebu, di mana industri tebu yang sudah ada di pemerintah telah mengalami kerugian.


Petani Ahwaz melakukan aksi protes ke pemerintah rezim Iran yang telah merampas tanah-tanah mereka.
Rezim tersebut menyita tanah dan mencabut hak dasar para petani Arab pribumi.

Beberapa petani Arab Ahwaz ini telah diwawancarai oleh media Middle East Monitor (MEMO) dengan syarat anonim untuk melindungi mereka dari penganiayaan rezim Iran.

Para petani Ahwaz mengatakan bahwa mereka telah bekerja di tanah mereka selama beberapa generasi, sementara rezim Iran telah bertindak dengan acuh tak acuh terhadap penderitaan mereka, mengancam menghukum dan memenjarakan siapa pun yang melakukan demonstrasi menentang tindakan rezim.

Rezim Iran mengklaim bahwa properti-properti di tanah Ahwaz itu sebenarnya adalah “milik negara” dan telah dirancang untuk pembangunan permukiman baru bagi pemukim Persia yang datang ke daerah tersebut. Rezim Iran juga telah mengumumkan bahwa komunitas baru ini akan dilengkapi dengan fasilitas jalan, pasokan air dan listrik serta fasilitas yang tidak tersedia untuk orang-orang Ahwaz yang diusir dari rumah mereka.

Salah satu wanita Ahwaz yang dipisahkan dari rumah keluarganya, Maryam, mengatakan bahwa rezim Iran yang didominasi etnis Persia berusaha untuk menghentikan orang-orang Ahwaz pribumi kembali ke rumah mereka dengan melakukan pengamanan tingkat tinggi di area tersebut. Maryam mengatakan bahwa “Kami tidak hanya kehilangan tanah kami yang dirampas rezim, tapi rezim juga menciptakan ‘zona keamanan’ di sekitar desa kami.”

Seorang pemuda Ahwaz bernama Karam, berkata dengan tegas:

“Kami tidak punya apa-apa, hanya tanah ini dan tanpa (tanah) ini kami tidak dapat bertahan. Tanah ini menyediakan makanan untuk keluarga kami dengan menanam sayuran, tomat dan tanaman sereal. Sekarang mereka (rezim Iran) telah mengambil paksa hampir semua tanah kami. Kami menghadapi nasib yang sama seperti daerah pedesaan lainnya (di tanah Ahwaz), dengan orang-orang yang tertinggal dalam kemiskinan tanpa sumber pendapatan.”

Ali -seorang pemuda Ahwaz lain yang juga tampak berputus asa karena telah diusir dari kampungnya- mengatakan bahwa keluarganya dipaksa untuk pindah dari desa mereka ke ibukota Ahwaz, sebelum Garda Revolusi Iran (IRGC) menyita 40 hektar lahan yang mereka miliki dan membangun sebuah markas untuk milisi “Fajr” di tanah mereka (merujuk pada sekelompok paramiliter Iran).

Ali mengatakan:

“Ayah saya telah melakukan yang terbaik melalui pengadilan dan mendapatkan sebuah dokumen yang mengatakan bahwa tanah itu adalah milik kami, namun keluarga kami mendapat ancaman dari dinas intelijen bahwa jika kami tidak berhenti melakukan proses gugatan hukum untuk mendapatkan kembali tanah kami, maka kami akan dipenjara bertahun-tahun.”

Pembatasan penggunaan tanah oleh rezim untuk tujuan pertanian milik negara telah membuat ribuan keluarga di pedesaan wilayah Ahwaz diusir dari tanah mereka dalam keadaan kelaparan dan kemiskinan. Banyak diantara warga Ahwaz yang menjadi sakit karenanya. Banyak kanak-kanak yang tinggal di komunitas ini menunjukkan tanda-tanda terhambatnya pertumbuhan, dengan adanya peringatan dari petugas medis  bahwa kondisi kanak-kanak tersebut sedang mengalami kemunduran.

‘Axis of Resistance’?

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah meletusnya krisis Suriah, Iran telah dituduh menciptakan sebuah drama yang bertentangan dengan Israel untuk mengumpulkan dukungan regional yang luas untuk kegiataannya di wilayah timur tengah. Para pemimpin Iran biasa mengutuk dan mengancam Israel seperti yang biasa ditulis di media-media Iran, namun tindakan rezim Iran yang dianggap sebagai ekspansionis dan imperialis telah mengumpulkan kritikan yang semakin intensif.

Berbicara kepada MEMO, Ruth Riegler, seorang jurnalis Skotlandia, mengatakan bahwa retorika ‘Axis of Resistance’ Iran telah menjadi kebohongan mengerikan sejak awal. Ruth juga mengatakan bahwa rezim Iran telah mengeksploitasi isu kemerdekaan Palestina untuk tujuan politiknya sendiri sambil melanjutkan penjajahan dan penindasan Iran yang sangat keji terhadap orang-orang Arab Ahwaz.

Sementara itu, Raed Baroud, seorang aktivis hak asasi Palestina, mengatakan kepada MEMO:

“Rezim Iran yang menempati tanah saudara kami di Ahwaz dan menindas mereka di bawah ‘sepatu botnya’ tidak akan pernah bisa menjadi pendukung kebangkitan Arab atau kemerdekaan Palestina.

Meskipun kekuatan regional Arab tidak secara efektif menjelaskan penyebab ditindasnya orang-orang Ahwaz, setidaknya ada seruan agar dunia memboikot Iran karena pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Arab Ahwaz yang dianiaya tersebut.

Iran sekarang sedang dikritik karena secara masif mengklaim mendukung hak, kebebasan dan kebebasan orang-orang Palestina melawan penjajahan Israel, sementara dalam waktu yang bersamaan rezim Iran menindas etnis minoritas mereka sendiri dan menyita tanah warga pribumi.

Alih-alih mengatasi masalah ini, Iran malah berusaha untuk menyalahkan kerusuhan yang meningkat di wilayah Ahwaz kepada Inggris, Arab Saudi dan Israel. Menurut rezim Iran, tiga negara ini telah berkonspirasi untuk menciptakan kerusuhan dengan menghasut sebuah plot asing di propinsi Khuzestan (dahulunya tanah negara al-Ahwaz).

Namun, dengan adanya klaim penganiayaan yang serupa dari minoritas lainnya di Iran, termasuk dari orang Kurdi dan Baluchi di Iran tenggara yang mendukung penuh hak orang-orang Ahwaz menjadi penguat bukti bahwa orang Ahwaz bukanlah satu-satunya etnis yang ditindas oleh rezim Iran. Apa yang terjadi pada orang Ahwaz adalah sesuatu yang juga menimpa kebanyakan warga Iran etnis non-Persia. Dalam kasus ini ungkapan “tidak ada asap tanpa ada api” merupakan ungkapan yang tepat.

Middle East Monitor DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment