Muslimina

Wednesday, May 1, 2013

Dilema HAMAS, Hadapi Pengungsi Palestina Yang Kembali Dari Suriah


By on 7:04 PM

3 anak perempuan Omar Auda bermain di pagar Apartemen, Terlihat bendera Revolusi Suriah berkibar di Jalur Gaza. Foto : The Guardian

Sembilan tahun sebelum ia lahir, Omar Ouda harus melarikan diri dari tempat kelahirannya di Al Majdal, Palestina. Kota yang kini bernama Ashkelon itu telah dikuasai Israel setelah perang sipil tahun 1948. Keluarga Omar Ouda menetap di Jalur Gaza.

Kondisi Palestina yang tidak aman membuatnya ikut dalam arus pengungsian ke Suriah. Kini, enam puluh limat tahun setelah kejadian itu, dihari tuanya iapun harus merasakan melarikan diri karena perang yang berkecamuk di Suriah. Omar telah menghabiskan kehidupannya dalam pengungsian di Libanon, Arab Saudi hingga Suriah.

Setelah lebih dari dua tahun konflik Suriah berjalan, ia beserta keluarga kembali ke Jalur Gaza.

Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah pengungsi Palestina di Suriah. Dalam dua tahun terakhir ini ada lebih dari 500 orang pengungsi Palestina di Suriah yang melarikan diri ke Jalur Gaza.Bahkan sepertiga dari jumlah itu tiba di Gaza dalam dua bulan terakhir untuk menghindari pembantaian tentara loyalis Bashar Al Assad.

Satu persatu negara Arab yang menampun para pengungsi mulai rontok. Mereka kewalahan atas peningkatan jumlah pengungsi, sementara kondisi pertempuran di Suriah semakin keras.

Jumlah warga Palestina yang melarikan diri dari tempat pengungsian di Suriah mencapai 1,4 Juta orang. Sejak revolusi Suriah meledak mereka menyebar ke berbagai negara Arab.

Saat ini, wilayah Jalur Gaza memang semakin terbatas karena penjajahan negara Israel. Total wilayah Gaza sekitar 139 mil persegi, dengan jumlah penduduku kurang lebih 1,7 juta orang. Dalam kondisi seperti penduduk Gaza masih mampu bertahan setelah mendapat 2 kali serangan besar-besar dari Israel selama empat tahun terakhir. Yaitu pada tahun 2008-2009 dan 2012 lalu.

Namun, tidak ada tempat aman bagi sebagian dari 487.000 warga Palestina di Suriah selain kembali ke Jalur Gaza. Trauma, kehancuran kelaparan, kematian dan keputusasaan sedang mendera siapa saja di Suriah. Kembali ke Gaza adalah piihan yang lebih baik.

Sebelum kembali ke Gaza, keluarga Ouda tinggal di kamp pengungsi Yarmouk, dipinggiran daerah Damaskus. Mereka hidup bersama 150.000 warga Palestina lainnya. Kini 85% pengungsi Palestina ditempat itu telah melarikan diri sejak perang revolusi Suriah terjadi.

Menurut lembaga PBB yang bertugas untuk menangani pengungsi Palestina, UNRWA mengatakan sebulan yang lalu. Para pengungsi yang tersisa ditempat itu bukan karena tidak mau melarikan diri, tapi mereka sudah terlanjur terjebak diantara pertempuran yang terjadi.

“Hidup kami baik-baik saja sebelum perang terjadi” Jelas Ouda yang kini berumur 56 tahun.

“Kami memiliki sebuah rumah berlantai 5 dan sebuah usaha percetakan. Dalam enam bulan pertama konflik revolusi masih belum berpengaruh” Jelasnya lagi.

Namun setelah melewati enam bulan pertama dampak perang ke perekonomian mulai terasa. Langganan percetakan mulai tak ada kabar, omset perusahaan pun mulai menurun dan akhirnya bangkrut.

Januari 2012, Ouda coba merantau mencari pekerjaan. Ia meninggalkan Istri, anak-anak dan cucunya di Suriah. Ia mengadu nasib ke negeri yang dipimpin Muhammad Mursy yaitu Mesir. Sayangnya, tak berlangsung lama, Ouda ditangkap pihak berwenang mesir. Tak ada visa dan paspor yang dimilikinya, iapun dideportasi ke rumah aslinya di Jalur Gaza.

Sementara keluarganya terjebak ditengah-tengah pertempuran di Suriah.

“Saya sangat ketakutan. Kami hanya mampu berkomunikasi lewat internet. Setiap hari keluarga saya melihat orang dibunuh. Cucu – cucu saya begitu panik, dan mereka memohon agar saya dapat mengirimkan uang agar mereka bisa keluar dari lingkaran perang tersebut” Cerita Ouda lagi.

Setelah berhasil mengumpulkan uang dari meminjam ke teman dan kerabat dekat. Ouda akhirnya bisa berkumpul lagi dengan keluarganya di Jalur Gaza pada bulan Maret 2013. Namun, pindah dari Damaskus ke Gaza tak sedamai yang ia harapkan. Ouda seperti berpindah dari satu perang ke perang yang lainnya.

Ouda berpikir kehidupan di Gaza akan bebas dari peperangan. Kenyataannya, di Gaza justru intensitas serangan Israel adalah langganan rakyat Gaza. Salah satunya ketika ia merasakan bagaimana serangan Israel di bulan November 2012 lalu.

“Ya, kami sekeluarga khawatir dan takut. Tapi ada perbedaan besar antara perang di sini dan perang di Suriah. Sini, masih ada tempat untuk menghindari bom dan tempat-tempat berbahaya, Di Suriah semua tempat berbahaya.” Jelasnya.

Ouda kini tinggal di sebuah apartemen berkamar tiga di Beit Lahiya, Jalur Gaza. Didepan rumahnya ia mengibarkan bendera Revolusi Suriah. Adapun biaya untuk apartemen itu dibiayai oleh seorang temannya yang murah hati. Setiap bulan ia mendapatkan subsidi uang sebesar 200 dollar dari orang yang tidak mau disebutkan namanya.

Meski Palestina adalah tanah kelahirannya, namun ia tetap merasa asing di Gaza. Pemerintah Hamas sendiri memperlakukannya seperti orang asing. Menurut pemerintah Hamas seharusnya PBB bertanggung jawab atas kebutuhan para pengungsi.

“Ini akan menyebabkan masalah besar bagi Gaza jika jumlah pengungsi yang datang ke Gaza meningkat pesat,” kata Issam Adwan, kepala Departemen Penanganan Pengungsi dari Pemerintahan HAMAS.

“Infrastruktur Gaza bahkan tidak dapat menampung semua pengungsi. Pengangguran sudah lebih dari 30%. Sementara para pengungsi membutuhkan pekerjaan dan perumahan.”

Hamas mengatakan sedang mengerahkan segala upaya untuk mengatasi kondisi yang dilematis ini, disisi lain orang – orang seperti Ouda adalah warga Palestina juga, disisi lain kapasitas Jalur Gaza memang memiliki banyak keterbatasan untuk menampung para pengungsi Palestina yang ‘pulang kampung’ dari Suriah.

“Orang-orang ini pengungsi Palestina. Kami memahami bahwa UNRWA memiliki defisit anggaran, tapi ini darurat,” kata Adwan mengeritik sikap UNRWA, lembaga PBB yang bertugas untuk mengurus para pengungsi Palestina di Suriah.

Chris Gunness, juru bicara UNRWA, mengatakan: “Kami sangat sadar akan penderitaan para pengungsi yang telah mengungsi untuk kedua kalinya – pertama dari Palestina ke Suriah, sekarang justru berbalik dari Suriah ke Palestina.”

Gunners berjanji akan mencari donatur international untuk membantu krisis anggaran UNRWA. Saat ini UNRWA memikirkan agar para pengungsi Palestina yang kembali ke Gaza dari Suriah tetap mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan bantuan pangan.

Secara sadar, Ouda berharap konflik di Suriah segera selesai. Ia sendiri berencana untuk kembali ke Suriah setelah Bashar Al Assad jatuh.

“Saya sangat yakin rezim Suriah akan jatuh” Jelasnya.

“Kami pikir kami akan datang kembali ke tanah air kami, tapi kami tidak punya tanah air. Kami serba salah.” Jelas Ouda yang juga mengaku kecewa terhadap sikap pemerintahan Palestina. Baik Pemerintah Otoritas di Tepi Barat maupun terhadap Hamas sendiri.(bumisyam)

Muslimina

Blog Informasi Muslim Indonesia dan Dunia

0 komentar:

Post a Comment


 
".