Ormas Menyesalkan Penolakan dan Pemulangan Ulama


Panglima Madar Laskar Pembela Islam Kalimantan Barat, M Imran Al Habsy yang turut hadir dalam orasi di taman Digulist Untan pada Sabtu (6/5) sore, beserta dengan beberapa tokoh Ormas lainya juga menyesalkan penolakan serta pemulangan terhadap Ulama yang saat itu telah tiba di Bandara Supadio dengan tujuan untuk memberikan tausyiah di Kalimatan Barat.

Walaupun ia tidak bisa memberi tahukan nama Ulama yang hadir tersebut, dia juga mengherankan mengapa pihak terkait mengambil tindakan seperti itu.

“Kami sangat menyesalkan adanya penolakan terhadap kedatangan Ulama yang akan memberikan tausyiah di Kalimatan Barat, kami mengherankan aparat terkait bisa mengambil tindakan seperti itu,” ujarnya.

Menurutnya, kalau memang dari pihak kepolisian berharap agar Kalbar kondusif namun tindakannya bukanlah seperti itu yaitu dengan tidak mengembalikan ulama yang memberikan tausyiah kepada masyarakat Kalbar.

“Kami umat Islam sangat mengharapkan tausyiah dari ulama supaya kami umat Islam semakin baik dan benar,” katanya.

Selanjutnya, dia juga sangat mengecam aparat yang bertindak seperti itu, kemudian  mengingatkan belum pasti tindakan penolakan Ulama dapat membuat Pontianak menjadi kondusif.

“Umat Islam sudah pasti kecewa dengan adanya tidakan seperti ini,” tegasnya.

Atas kejadian penolakan yang dilakukan dengan melarang memberikan tausyiah kepada umatnya, kata dia, berarti pemerintah ingin umat Islam tidak benar.

Tidak hanya itu, dia juga mengingatkan serta menghimbau oknum yang melakukan penolakan juga mempunyai acara dan pada nantinya jangan salahkan jika menolak acara lainnya.

“Nanti umat Islam bisa bergejolak, apakah itu akan menimbulkan keadaan yang kondusif kan belum tentu, kita lihat nanti apa yang terjadi,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris DPD FPI Kalbar, Syarif Kurniawan juga menyesalkan adanya pemulangan terhadap dua Ulama tersebut untuk kembali ke Jakarta setibanya di Bandara Supadio.

Kata dia, dengan kondisi kejadian kemarin, telah terjadinya pengusiran ulama yang pada dasarnya tidak lagi berbicara siapa pun ulama tersebut namun intinya ulama itu adalah pewaris nabi.

“Kami tidak berbicara personal, setiap ulama yang diusir dan dilecehkan, wajib umat Islam untuk melakukan pembelaan dan wajib memberikan perlindungan, karena bagaimana pun ulama itu memberikan tausiyah dan pencerahan berkaitan dengan hal-hal yang baik, bukanlah hal-hal yang tidak baik,” ungkapnya.

Walaupun menurutnya FPI yang distigmakan tidak baik kata dia itu sangat-sangatlah salah sekali yang pada dasarnya tidak perlu terjadi jika kalau lah memang Cornelis itu sebagai seorang Gubernur, yang notabene adalah induk dari wilayah ini mengajak untuk bertemu, mengajak tabayyun, meminta konfirmasi namun hal tersebut tidak pernah dilakukan olehnya.

“Dimana intelektualitas beliau, dimana seorang pemimpin yang notabene harus bijaksana,” tanya dia.

Dia melanjutkan, malahan Cornelis menunjukkan dan mempertontonkan ujaran-ujaran yang kebencian sehingga masyarakat-masyarakat khususnya yang notabene dibawahinya.

“Beliau mengatasnamakan Dayak, itu sangat keliru sekali, kasihan dengan saudara-saudara Dayak yang tidak tahu menahu, yang mudah terprovokasi,” jelasnya.

Dia menegaskan, FPI tidak pernah bermusuhan dengan etnis manapun.

“Islam itu cinta damai, FPI sangat menjunjung tinggai namanya perdamaian. Dan FPI tidak pernah bermasalah dengan yang namanya Dayak. Akan tetapi, ada oknum-oknum, suku-suku yang memang tidak mau tabayyun  konfirmasi, yang memang sakit hati dengan kami, dan kami tidak tahu apa motifnya yang membuatnya sakit hati, itu yang menyulut amarah dari masyarakat mereka dan juga kita ” tegasnya.

“Kami, khususnya umat Islam, dilahirkan dalam kondisi berdarah-darah, insya allah kami siap juga mati berdarah-darah,” lanjutnya.

Tetapi kemarin kata dia, pihaknya telah dibenturkan dengan aparat, yang notabene ia masih sangat yakin juga, masih percaya dengan aparat.

“Tetapi kondisi kemarin itu kalau memang aparat beralasan bahwa tidak kondusif, sangat keliru sekali. Alasan aparat, situasi tidak kondusif untuk memulangkan ulama-ulama kami. Jelasnya, kami sudah berkomitmen akan terjadi kondusifitas kalau kami tidak dihadang, dan kemarin tidak ada penghadangan kok dari pihak oknum Dayak, pihaknya orang-orang Cornelis yang mau menurunkan 10 ribu orang. Artinya kondusif, seharusnya ulama kami diturunkan,” jelasnya.

Namun pada dasarnya, kenyataannya jelas tidak adanya netralitas dari pihak aparat khususnya pihak kepolisian yang notabenenya ia masih percaya.

“Intinya, bahwa kondisi pihak kepolisian, itu adalah oknum-oknum petinggi mereka. Masih banyak personel-personel pihak kepolisian dan TNI yang dibawah, hati mereka juga hancur melihat ulama mereka yang diusir, dan itu mereka sampaikan kepada kita. Sedih kami bang, kami hanya hierarki, kami hanya diperintahkan oleh atasan,” cerita dia.

Jadi kemarin itu, bukan satu alasan yang tepat pihak kepolisian memulangkan ulama-ulama yang seharusnya diberikan kesempatan.

Sesudah itu, dia mengatakan, sebelum  mengambil keputusan untuk memulangkan, dari pihak pemerintahan, kepolisian, dari Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif, mereka sebelumnya mengadakan pertemuan, namun tidak pernah mengajak bertemu empat mata, berdiskusi bersama, tahunya berani mengambil keputusan  dan itu yang sangat kami sayangkan.

Kembali ia menegaskan untuk siap menjunjung tinggi yang namanya perdamaian yang komitmen , harga mati di dalam FPI.

“Kedua, NKRI itu harga mati, berkaitan dengan malah toleransi dan Bhinneka Tunggal Ika, jangan ragukan kami, FPI insya allah terdepan dalam hal ini,” katanya.

Untuk sekarang ini, aku dia jika dilihat kenyataan dan bukti fakta, bahwa neo komunis sudah masuk di tubuh partai-partai tertentu, masuk di dalam elemen-elemen, maka yang paling benci dengan ulama dan sakit hati dengan yang namanya agama, itu adalah komunis dan sekuler.

“Disadari atau tidak disadari, hal ini sudah masuk di Indonesia, khususnya di Kalbar makanya mereka menolak ulama-ulama masuk, karena ulama memberikan pencerahan yang baik, menyadarkan kepada umat bahwa pentingnya agama tetapi yang terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

“Umat Islam masih bersabar dan mampu untuk masih menghargai pihak kepolisian. Kami ikut insya allah. Tapi jangan sampai salahkan umat Islam, kalau nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dalam artian kalau nanti pada saat mereka membuat acara, ada statemen dari masyarakat, umat Islam yang tidak menerima juga untuk tidak menghadirkan untuk tidak mengadakan acara, jangan disalahkan,” lanjut dia.

Maka dari itu, kembali ia meminta tolong kepada pemerintah khususnya Presiden dan juga Gubernur serta lainnya yang namanya toleransi inilah dia bukti toleransi.

“Kami tidak pernah mempermasalahkan mereka mendatangkan siapapun. Begitu juga kami, tolong jangan dipermasalahkan, ini sudah dua kali dan ingat hal Ini bukan cerita lokal tetapi ini bisa menjadi internasional, malu kita Indonesia, Ulama yang notabene pewaris nabi di larang untuk memberikan tausyiah dan pencerahan,” tutupnya.

(Maulidi/Muh) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment