Cerita Mengejutkan Penerjemah Raja Salman


Kedatangan Raja Salman bin Abdulazis al Saud ke Indonesia meninggalkan banyak cerita.

Tidak hanya soal kemewahan Raja dan rombongannya, tapi juga cerita orang-orang Indonesia yang sempat berada di dekat Raja Arab Saudi itu.

Muchlis Hanafi, misalnya. Pria berperawakan kecil ini selalu tampak di antara Raja Salman dan Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat sang raja berada di Jakarta.

Publik pun bertanya, siapa laki-laki berkacamata yang selalu berada di belakang, diantara dua pemimpin negara itu?

Muchlis adalah penerjemah kepresidenan bagi tamu asal Timur Tengah.

Lahir pada 18 Agustus 1971, Muchlis merupakan seorang anak yang tumbuh di lingkungan Betawi religius. Orangtuanya adalah guru agama dan memiliki sebuah madrasah kecil.

"Jadi saya asli Betawi, tinggal di Cakung. Saya tumbuh di kultur yang religius dan dari keluarga santri", ujar Muchlis di kantornya, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama, dikutip Liputan6.

Tamat dari Madrasah Ibtidaiyah, Muchlis melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Gontor. Di sinilah, ia mulai mengenal bahasa Arab.

Lulus dari Gontor, Muchlis terbang ke Kairo, Mesir untuk menimba ilmu di Kampus al-Azhar.

Di negeri Piramid itu, Muchlis mengaku lebih bebas mengeksplorasi kemampuan berbahasa Arabnya, karena langsung berinteraksi dengan orang asli Arab.

Selama di Kairo, ia mengasah kemampuan bahasa Arabnya dengan 2 cara tak lazim.

"Pertama saya rajin menghafal logat pembawa berita ramalan cuaca di radio, dan kedua, saya sering nonton film Mesir", kisahnya.

Dua hobi unik itu yang mengantarnya sebagai penerjemah kepresidenan untuk tamu asal Timur Tengah. Padahal saat kuliah dari strata satu hingga doktor, ia mengambil jurusan Kajian Tafsir Al-Qur'an.

"Studi spesialis saya adalah studi tafsir Al-Qur'an, ini yang saya tekuni dari S1 sampai S3 di Mesir. Tapi tak jarang bila ada tamu negara dari Indonesia datang, saya diminta jadi penerjemah", tuturnya.

Satu kenangan yang tak pernah dilupakannya selama bertugas sebagai penerjemah, adalah ketika mendampingi para hakim agama yang melakukan studi singkat di Mesir.

"Itu tahun 2002. Di sana saya sebagai penerjemah terpilih yang mengalih bahasa Arab-Indonesia dan sebaliknya. Dosennya Mesir, audiensnya Indonesia, itu saya ngomong 4 jam nggak berhenti, karena sendirian dan nggak ada yang gantiin", tutur Muchlis.

"Bahasannya tentang hukum lagi, jadi saya belajar juga buat tahu istilah-istilahnya, nah di sini saya benar-benar ditempa (sebagai penerjemah)", lanjutnya.

Pengalaman itu membuat Muchlis kini sangat mahir menerjemahkan segala rupa kajian studi, mulai dari kesehatan, ekonomi, dan lainnya.

Untuk semakin melebarkan 'sayap'-nya, Muchlis bergabung dengan komunitas penerjemah internasional.

Terbukti, ia sukses mendampingi tamu-tamu negara asal Timur Tengah seperti Mufti Besar al-Azhar, hingga Raja Salman.

Meski mengaku tidak kaget lagi mendampingi tamu negara sekelas raja, menerjemahkan perkataan Raja Salman, menurut Muchlis sangat istimewa.

"Karena sebagai seorang santri dan seorang muslim, saya tidak hanya melayani seorang kepala negara saja. Bukan juga hanya seorang raja saja, tetapi melayani seseorang yang bergelar sang pelindung dua kota suci di Arab Saudi, yakni Mekah dan Madinah," ujar Muchlis.

Muchlis menuturkan, selain momen psikologis dalam mengawal Raja Salman, menerjemahkan perkataan Raja Arab Saudi itu tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Ada beberapa kejadian yang membuatnya harus berjuang ekstra saat membantu Raja Salman menyampaikan perkataannya ke dalam bahasa Indonesia.

Kala itu, saat mendampingi Raja Salman berkunjung ke Gedung DPR pada 2 Maret 2017.

Saat di lift, Ketua DPR Setya Novanto mengajaknya ikut ke dalam lift. Tujuannya agar ada percakapan dengan dengan Raja Salman saat menuju ruang pidato. Namun, lift sempit karena ada penjaga Setya Novanto dan Protokol Raja.

"Sama Pamdal (protokol DPR) saya didorong masuk. Tapi sama penjaga Raja saya ditahan, biar tidak sempit dan mengganggu kenyamanan Raja mungkin. Akhirnya saya harus kejar mereka naik eskalator dua lantai yang tinggi-tinggi, saya lari kencang saja", tutur Muchlis sambil tertawa mengingat momen itu.

Ada pula peristiwa saat Raja Salman menyambangi Istana Kepresidenan di Jakarta pada 2 Maret 2017.

Kala itu, Presiden Jokowi mengemudikan sendiri mobil golf untuk mengantar Raja Salman untuk menanam pohon.

Muchlis mengaku sempat kaget karena tiba-tiba aba-aba datang mendadak dari prokoler Raja Salman.

"Iya, jadi saat Raja sedang naik mobil golf dengan Pak Jokowi, kita ikutin sambil berlari kecil. Tapi ada satu ketika Raja tampak mau ajak ngobrol, dikode protokol Raja, saya nangkep dan spontan naik ke belakang mobil golf", terangnya.

"Izin Pak Presiden, penerjemah siap", tegas Muchlis saat itu.

Ia juga menuturkan peristiwa yang menurutnya baru kali ini diungkap. Muchlis mengaku melihat ekspresi "sedikit bosan" dari Raja Salman.

Saat itu, ia mengantarkan perjalanan Raja Salman bertolak dari Jakarta ke Brunei di Bandara Halim Perdanakusuma pada 4 Maret 2017.

Rupanya, Muchlis juga bertugas menyambut kedatangan Raja Salman saat datang di Bali.

"Karena kami sudah hapal ketemu terus beberapa hari terakhir, Beliau pas turun pesawat lihat saya. Dan ada ekspresi senyum, tapi seperti 'lo lagi lo lagi' ha-ha-ha... Mungkin loh ya, habisnya kan di Jakarta ketemu. Eh, mau liburan di Bali ketemu lagi, jadi saya artikan seperti itu", tutur Muchlis sambil tertawa. (Liputan6) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment