"Nggak Penting Belain PKS...!"


Pendidikan politik pertama saya dapat dari Bapak. Doktrin yang SELALU Bapak berikan adalah doktrin apatis. Memprotes  berbagai kerusakan bangsa. Ibaratnya, Indonesia sudah rusak sekaset. Jadi kalau mau benar, ganti kaset baru. Semuanya  harus generasi baru.

Tapi Bapak belum pernah mendiskusikan solusi nyata atas semua protesnya. Kesimpulannya ada di satu kata. Golput. Untuk apa memilih, tidak ada perubahan nasib. Proklamasi Bapak, tidak akan milih sampai mati. Ekstrim kan?!

Saya sangat memahami pola pikir orang tua saya. Satu dari sekian banyak kasus golput sebagai pilihan di tanah air. Beberapa faktor mempengaruhi sikap demikian. Termasuk sepinya pendidikan politik yang benar dan santun. Karena saya kenal karakter Bapak, akan sia-sia jika mendebatkan bahwa Pemilu sejatinya berhubungan dengan harga cabe, jumlah pengangguran, kebajiran, korupsi dan semua nasib bangsa. Maka lakukan sesuatu. Ganti dengan anggota dewan dan pemimpin yang amanah. Mewujudkan kecintaan pada Allah dengan melakukan yang terbaik bagi bangsanya. Bukan hanya golput dan orasi menghujat.

Untuk sementara, status saya dan Bapak. Bagi saya, sikap saya. Bagi Bapak, sikap Bapak. Bapak tidak akan ikut saya dan saya tidak akan ikut Bapak. Tapi kami saling menghormati. Lucunya… Sejak 2004, Pemilu pertama yang saya ikuti, saya pilih PKS dan  langsung jadi saksi TPS. Mengawal suara hingga ke PPK. Padahal ketika itu, saya masih sangat baru mengenal tarbiyah. Bahkan masih  mempertayakan banyak hal di tarbiyah.

Pesan murobbi saya menjelang  jihad siyasi, PKS hanyalah nama. Dan nama bisa apa saja. Maka seorang aktivis dakwah bisa dan boleh  mengusung berbagai nama untuk misi dakwahnya. Bisa dan boleh masuk ke berbagai lini kehidupan. Tidak ada pengecualian termasuk di ranah politik. Kebetulan Keadilan dan Sejahtera disepakati sebagai nama dari gerakan dakwah di politik.

Kalau yang saya bela PKS, maka bisa jadi PKS mati. Seperti PK yang dipaksa mati oleh ketentuan parliamentary  treshold. Tapi yang kita bela adalah dakwah yang diusung PKS. Dan dakwah tidak akan pernah mati. Ketika berkesempatan buka-buka fb. Ada perdebatan cukup panjang karena status seseorang yang dulunya ADS. Salah satunya komentarnya, “kalau masih ada PK saya pilih PK, nggak pake’ S. Sayang PK sudah tamat riwayatnya.” Saya  hanya ngomong sendiri, “mbak ini belain namanya.” Berubah nama, berubah juga sikapnya.

Kalau yang saya bela PKS, saya kemungkinan besar putus hubungan dengan banyak saudara seiman yang mati-matian bilang demokrasi tidak sesuai syariah Islam. Mereka yang sengit menulis komentar Islam hanya bisa diperjuangkan dengan cara yang diajarkan Rasulullah. Dan sistem partai dalam Pemilu adalah sistem kapitalis.

Sudah cukup saya harus menahan diri untuk tidak menyahut berbagai komentar tersebut. Paling maksimal saya curhat ke suami, menumpahkan ke-gregetan tersebut. Rasanya mau teriak, sadar nggak sich lho kalo musuh Islam sengaja mau mengadu domba kita biar banyak orang Islam nggak milih. Biar Indonesia dikuasai orang kafir, Biar Islam di Indonesia musnah. Halooo…! Tapi cuma neriakin suami. Kalau teriak di sosmed, khawatir khilaf.

Kalau yang saya bela PKS, dimana nurani keibuaan saya. Anak usia 11 bulan dalam kondisi demam diajak pergi seharian. Ada baksos dapil 1. Naik motor dengan lama perjalanan lebih dari satu jam. Pergi di terik mentari dan pulang di kala senja menutup hari.  Tapi dengan bismillah saya tetap ikut ‘bantu’ baksos. Meski faktanya saya hanya mengurusi si kecil, tak apalah. Belum lagi tatapan iba dan protes dari banyak orang yang melihat.

Kalau yang saya bela PKS, saya akan stress di saat media ramai mengumumkan PKS hanya menduduki posisi  7 atau 8 dari 15 parpol peserta Pemilu. Bukan 3 besar yang selalu diteriakkan. Seolah kerja-kerja sepanjang tahun harus pupus oleh Pemilu satu hari.

Kalau yang saya bela PKS, saya kian tertekan mental dengan sikap orang tua saya. Sementara saya ‘jungkir balik’ mengenalkan PKS, melakukan pendidikan politik yang Islami. Mirisnya, orang terdekat saya justru antipati. Syukurnya, Bapak tidak pernah menghalangi saya aktif di partai.  Do’a saya, semoga kerja dakwah kami turut dirasakan Bapak. Sindiran kecil dari Bapak,  biasa. “Katanya anti korupsi. Presidennya kena tahan KPK!” Enjoy aja, saya kan nggak belain PKS.

Maaf, terlalu murah harga yang harus dibayar untuk semua perjuangan para aktivis dakwah jika hanya atas nama PKS. Maka, saudara-saudara sebangsa setanah air, ingat, nggak penting belain PKS!


Oleh: Umi Laila Sari
Humas DPC PKS Kemuning, Kota Palembang DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment