Terbaliknya Logika Safety Versi Jonan


Bagaimana tiket 0 rupiah bisa ada?

Bagaimana sih, kok bisa-bisanya, ada maskapai yang menjual
tiket 0 rupiah? Tidak masuk akal dong? Jawabannya: masuk akal. Kalau situ tidak bisa memahaminya, bukan berarti sesuatu itu tidak masuk akal. Akan saya jelaskan dengan cara awam urusan ini.

Apa sih itu yang disebut Low Cost Airlines (LCC)? Itu artinya, maskapai yang mengoperasikan penerbangannya dengan biaya rendah. LCC itu maksudnya efisien. Bukan murahan. Air Asia misalnya, bagaimana mereka disebut LCC?
Kita bahas dengan contoh paling simpel. Pramugari dan pramugara. Kalau kalian naik Garuda, flight terakhir ke Bandung-Surabaya misalnya, maka itu Pilot, pramugari dan Pramugaranya akan menginap di hotel (rata2 bintang 4). Itu tentu saja butuh biaya semua, biaya hotel, jemputan, makan, uang saku, dan lain sebagainya.

Air Asia tidak, mereka membuat skedul penerbangan sedemikian rupa sehingga pramugari yang bertugas di pesawat, pada flight terakhir kembali ke kota asal mereka. Pramugari ini bisa kembali ke rumah masing2, dan tidak perlu biaya hotel, untuk bertugas kemudian. Atau dalam strategi lain, mereka menyediakan mess yang sama baiknya sebagai pengganti hotel. Maskpai LCC mengatur hal seperti ini dengan baik, rapi, hingga mereka bisa memangkas banyak biaya operasional. Mereka mengatur efisiensi boarding, efisiensi staf operasional, cara memesan tiket, dan sebagainya. TAPI mereka tidak memangkas biaya SAFETY. Keliru sekali kalau ada yang mikir, LCC itu menyepelekan keselamatan. Tidak ada yang bisa dipangkas dari SAFETY.

Maskapai LCC juga menjual tiket dengan pendekatan “apa yang Penumpang butuhkan”? Penumpang hanya bawa bagasi tas ransel, maka tidak perlu membeli bagasi 20kg, apalagi 40kg. Buat apa? Apakah Pennumpang butuh duduk di kursi paling nyaman? Jika iya, maka ongkos tiketnya nambah bayarnya. Mau masuk pesawat paling dulu? Silakan, nambah lagi bayarnya. Mau makan? Juga nambah lagi bayarnya. Silahkan saja total-totalkan semuanya, jatuhnya tidak akan beda dengan maskapai lain. Tapi dengan adanya pilihan seperti ini, penumpang bisa terbang lebih efisien. Bukan kayak ngirim paket lewat kurir, mau suratnya hanya 10gram, mau 990gram, sama-sama dihitung 1 (satu) oleh kurir.
Nah, Maskapai LCC juga khas dengan promo harga. Apa itu? Begini, penjelasanny. Misalkan pesawat itu ada 100 seat kursi. Maka, mau isi pesawat itu 20 orang, mau 100 orang pol, tetap saja sama biayanya bagi maskapai LCC. Jadi, mereka begitu concern dengan tingkat okupansi atau keterisian sebuah pesawat. Mereka riset, dan tahu, oh, okupansi kita ini rata2 di 90% saja. Ada sisa 10% yang selalu kosong. Maka, digelarlah promo harga. Jauh-jauh hari, jika Anda beli tiket untuk tahun depan, kami kasih 0 rupiah.

Tapi itu hanya untuk 1-2 kursi saja. Karena toh, mau ada promo atau tidak rata-rata memang 90% terisi, mending promo, sekaligus bikin happy calon penumpang. Bagi maskapai itu adalah trik sederhana sekali. Tidak merugikan mereka. Toh 10 kursi itu secara rata2 memang akan tersedia alias kosong. Kecuali di masa2 sibuk (peak season), tidak akan ada itu promo, bahkan harga tiketnya bisa lebih mahal dibanding Garuda.

Tiket promo ini sangat menarik bagi jutaan backpacker di seluruh dunia. Bukan hanya kalian Pak Pejabat saja yang mau naik pesawat.

Jadi, harga tiket murah itu bukan dosa Besar! Bukan maksiat. Tidak lantas berarti murahan safetynya. Catat baik baik, Air Asia Airline itu dapat penghargaan: The World’s Best Airlines untuk kategori Low Cost Airlines. Mereka 5 tahun berturut turut memenangkan penghargaan bergengsi itu, tahun 2010, tahun 2011, tahun 2012, tahun 2013, tahun 2014. Itu adalah penghargaan paling top.

Garuda saja yang baru dapat tahun terakhir ini dalam kategori berbeda, bangganya minta ampun. Lalu Bagaimana mungkin maskapai yang sudah dapat berkali kali, dianggap hina dina, tidak ada hargaya sama sekali. Seolah sistem, prosedur maskapai Air Asia itu jelek semua. Air Asia itu juga korban, mana ada maskapai yang mau pesawatnya jatuh.

Saya kecewa sekali dengan kebijakan pemerintah soal jatuhnya pesawat Air Asia ini. Bukannya mereka bergegas membuka habis-habisan apa yang sebenarnya terjadi di kementerian perhubungan. Misteri kenapa sampai ada izin (terbang)hantu. Kenapa-kenapa??, semua dibongkar habis-habisan oleh regulator, peraturan, dan sebagainya. Eh malah bergegas sebaliknya.

kotak hitam baru saja ditemukan pagi ini dan butuh waktu lama untuk menelisiknya, KNKT masih jauh dari memberi kesimpulan, Anda pak Menhub sudah membuat keputusan: tidak ada lagi tiket murah penerbangan, hellouww.
Aduh, pak Jonan, penerbangan murah tidak identik dengan safety murahan. Harga promo tidak identik dengan promo keselamatan. Kalau begini caranya, ada teman yg bergurau bilang, kasus ini sama persis kayak orang ngeluh pusing migren, malah dikasih obat cacing. Sakitnya apa, obatnya apa. Tapi perumpamaan kawan saya ini sih belum nendang, menurut saya, kasus ini ibarat: ada orang ngeluh pusing migren, belum selesai didiagnosis, kita sudah langsung teriak (dengan gaya marah-marah sambil diliput wartawan):

“Kasih Mastin. Pasti good!”

Jaka sembung naik ojek, nggak nyambung, jek! Batalkan rencana kebijakan kalian mengatur tarif bawah penerbangan, karena gak masuk di logika.(ac/sharia) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment