Postingan Soal Habib Rizieq Disoal, Dokter di Sumbar Minta Maaf


Sebuah pesan berantai berisi cerita seorang dokter berinisial FL yang diduga diintimidasi sebuah ormas, beredar. Disebutkan, FL yang berdomisili di Solok, Sumbar, diintimidasi karena tulisan di akun Facebooknya. Polisi memastikan tidak ada intimidasi kepada si dokter. Hanya penyampaian protes atas postingan itu yang berujung permintaan maaf dari dokter FL.

Kabid Humas Polda Sumatera Barat, AKBP Syamsi mengatakan pesan berantai yang viral tersebut tidak seluruhnya sesuai dengan kenyataan. Benar dokter FL mendapat protes dari satu ormas karena status Facebooknya, namun protes tersebut tak sampai mengancam keselamatan dokter FL.

“Ibu Kapolres dengan Kasat Intel tadi sudah konferensi pers. Jadi kejadiannya itu bermula tanggal 22 (Mei 2017, red), waktu postingan. Kemudian ada pihak FPI melihat postingan itu. Kemudian pihak FPI itu mendatangi ibu dokter ini,” ujar Syamsi dikutip Detik.com Sabtu (27/5/2017).

“Jadi awalnya itu FPI merasa tersinggung atau tidak berkenan dengan postingan itu karena menyangkut ulama besar mereka, jadi FPI yang merasa keberatan karena menyangkut tentang Habib Rizieq,” imbuh dia.

Syamsi menjelaskan semula perwakilan FPI Provinsi Sumatera Barat yang hendak melayangkan protes. Namun setelah berkoordinasi dengan perwakilan FPI Kota Solok, akhirnya pihak FPI Kota Solok yang menemui dokter FL.

“Pertama itu tadinya yang mau datang FPI (tingkat, red) provinsi. Tetapi FPI Solok Kota menyampaikan sudah tidak usah, biar FPI perwakilan Solok Kota saja (yang menyelesaikan permasalahannya, red). Jadi pihak FPI yang di Solok Kota itu akhirnya dipertemukannya dengan ibu dokter,” terang Samsi.

Pertemuan tersebut dimediasi kepolisian dan dihadiri oleh kepala rumah sakit tempat dokter FL bekerja dan perwakilan Kementerian Agama Kota Solok. Syamsi menegaskan bahwa cerita di pesan berantai yang mengatakan dokter FL mengunggah permintaan maafnya dua kali di Facebook, tidak benar. Dokter FL hanya sekali mengadakan pertemuan dan tidak mengunggahnya di Facebook.

“Yang hadir di pertemuan ini kepala rumah sakit, ibu dokter sendiri, ormas-ormas, serta perwakilan Kementerian Agama Solok Kota. Jadi tidak ada permintaan maaf di facebook. Jadi difasilitasi, langsung dipertemukan, dimusyawarahkan,” jelas Syamsi.

Syamsi melanjutkan, pertemuan antar beberapa pihak tersebut menghasilkan perdamaian antara dokter FL dengan perwakilan FPI yang memprotes status Facebooknya. Perjanjian perdamaian tersebut kemudian diketik, dimateraikan dan ditandatangani kedua belah pihak.

“Sehingga dituangkan lah dalam perjanjian tadi, surat permintaan maaf itu, yang dituangkan dalam surat, ditandatangani di atas materai. Kemudian ada kata sepakat permintaan maaf,” ucap Samsi.

Syamsi juga menyampaikan ada orang tak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi ini dan mengarang cerita tentang intimidasi dokter FL. Cerita itulah yang menjadi viral dan beredar di masyarakat.

“Kemudian hari berikutnya ada postingan yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab, ini belum tahu siapa pihak-pihak tertentu yang mengatakan ibu itu diintimidasi, diteror. Postingan itulah yang tidak betul,” kata Samsi.

Polisi, imbuh Syamsi, sudah mengonfirmasi langsung pada dokter FL terkait status berisi seolah-olah curahan hatinya. Polisi sempat menawarkan pengamanan jika dokter FL merasa keselamatan keluarganya terancam. Namun doker FL menolak karena tidak merasa terancam.

“Ibu itu tidak membuat postingan itu. Sebenarnya setelah ada kata sepakat perdamaian, sudah selesai itu (masalah, red). Tapi karena muncul lagi postingan itu,viral-lah di media sosial,” ujar Syamsi.

Sementara itu Juru Bicara FPI Slamet Ma’arif menyatakan belum menerima informasi terkait kejadian di Solok tersebut. “Maaf ana belum dapat info lengkap kawan,” tutur Slamet, Sabtu (27/5). DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment