Setujukah Anda dengan Cara Gramedia Semarang Iklankan Buku Islam Seperti Ini?

Semarang — Pagi itu, langit cerah menelingkupi kawasan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/8). Seperti hari libur biasanya, tempat favorit di jantung ibukota Jawa Tengah itu ramai oleh warga dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Bersepeda santai, jogging ringan maupun duduk mengerumuni penjaja kuliner yang bertebaran di segenap penjuru. Gedung-gedung kekar di kawasan itu pun libur dan berdiam diri. Seolah tak ingin mengganggu warga yang sedang asyik tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Kecuali toko buku Gramedia.
Di depan toko yang tepatnya berada di Jl. Pandanaran 122 itu didirikan tenda dengan rak-rak buku berhamparan di bawahnya. Harga buku yang dipajang pun cukup “menantang.” Buku ukuran sedang setebal kira-kira 100 halaman banyak dijual mulai Rp. 15.000. Hilir mudik kendaraan memasuki halaman parkir. Saking ramainya, sesekali tukang parkir memasang tulisan “Parkir Penuh” di mulut jalan masuk halaman toko. Tulisan itu pun digeser kembali manakala ada kendaraan yang keluar. Suasana “menggiurkan” itu menggoda Kiblat.net untuk membaur dengan para penikmat buku tersebut.
Setelah puas menjelajah halaman depan, Kiblat.net masuk ke dalam toko, menuju lantai dua tempat buku-buku lain dipajang. Ada pemandangan yang cukup mengganggu. Anak tangga yang menghubungkan ke lantai dua itu dijadikan ruang iklan. Berisi tulisan judul buku yang mencolok, lengkap dengan penulis dan nama penerbit—persis seperti format punggung buku. Cara iklan yang kreatif, memang. Setiap orang yang meniti anak tangga pasti melihatnya.
Masalahnya, ada beberapa judul buku Islam yang diiklankan dengan cara seperti itu. Seperti dalam gambar, beberapa panduan agama Islam—dengan penulis plesetan seperti Alisnaik, Es Degan dan Djenggotten—itu terkesan seperti diinjak. Apalagi bila kaki pengunjung tepat menginjak huruf I-S-L-A-M. Bagaimana reaksi pengunjung?

Arifin (38) tahun merasakan ketidaknyamanan terhadap pemandangan tersebut. “Menurut saya tidak ada niat buruk pihak toko. Tapi ketika yang dipajang ada lafal Islam, sebagai seorang Muslim saya merasa kurang nyaman.”

Senada dengan Arifin, Ibrahim (13) pun mengungkapkan perasaan yang sama. “Seperti pelecehan,” kata pelajar kelas 2 MTs itu yang datang jauh-jauh dari Mijen, yang berbatasan dengan Kab. Kendal itu. Namun Linda (40) lebih ekspresif ketika melihat pemandangan itu. “Kalau bukan buku agama, saya rasa tidak masalah. Tapi kalau yang itu, seperti menginjak Islam.” “Apalagi bila di dalam buku itu ada ayat suci Al-Qur’an,” tandas wanita berkerudung lebar itu.

Salah seorang pramuniaga lebih memilih diam dengan sedikit mengangguk ketika Kiblat.net mencoba menyampaikan rasa kegelisahan itu. Sedangkan Sigit Yulianto, Duty Manager Gramedia Pandanaran ketika dihubungi Kiblat.net menolak untuk diwawancarai. “Datang aja ke Gramedia Pandanaran mas!” Ujar Sigit melalui pesan singkatnya.
Terlalu dini bila menganggap pemasangan iklan dengan cara seperti itu sebagai pelecehan terhadap simbol agama. Namun, dengan pengunjung beragama Islam yang jumlahnya tidak sedikit, Gramedia seharusnya cukup hati-hati dan sensitif terhadap hal-hal yang dapat mengganggu perasaan kaum Muslimin. Apalagi, sumber Kiblat.net di dunia perbukuan nasional membisiki, di Gramedia penjualan buku Islam menempati rangking ketiga setelah buku anak dan novel. Bagaimana pendapat Anda dengan cara iklan yang kreatif tapi… ?
(kiblat) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 komentar:

  1. Coba mas datang saja menemui kepala toko bukunya lalu bicarakan soal ini secara baik-baik. Seharusnya akan ditanggapi dengan baik oleh pihak toko buku. Saya yakin tidak ada maksud apa-apa di balik iklan tersebut, cuma memang bagian product specialist toko buku lupa memikirkan soal ini saat memasukkan judul buku yang akan dibuatkan stickernya.

    SAlam

    ReplyDelete
  2. terlalu membesar besarkan

    ReplyDelete
  3. Bukan membesar-besarkan broo,, ini namanya pelecehana nama agama, memang terlihat tidak ada maksud dan tujuan namun, coba kita telaah lebih dalam lagi, seandainya nama anda ada di bawan dan sering di injak2 bagaimana perasaan anda,,,?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak akan perasaanlah karena bukan orang Islam

      Delete