Membongkar Praktik Kristenisasi di Tubuh Media Indonesia


Edy A. Efendy tahu benar ada praktik kristenisasi di tubuh harian Media Indonesia (MI). Ia bisa yakin karena pernah bekerja sebagai reporter dalam harian tersebut.

Media Indonesia adalah media massa harian yang merupakan bagian dari Metro TV atau Media Group.

"Ayo bongkar dong. Saya melawan kristenisasi di MI, itu fakta. Lawan Saur, Elman, Andy, Laurens. Penjaga budaya jangan samakan dengan rubrik lain," kata Edy yang menggunakan akun @eae18 di Twitter,  Ahad (21/5/2017).

Edy tidak gentar terhadap segala ancaman yang menyerangnya.

"Secuil pun saya tak gentar diancam dibongkar ketika saya masih di MI. Tanya ke kawan-kawan yang masih aktif dan yang mantan," ujarnya hakulyakin.

"Saya gak gentar, " katanya lagi. Pasalnya,  kata dia,  selama di Media Indonesia tidak memiliki raport merah. "Karena selama bekerja di MI gak punya kasus uang. Yang ada bagaimana perlawanan terhadap kristenisasi," ungkapnya.

Edy memberikan contoh seorang teman yang dulu suka menjegal berita-berita tentang Islam. Namun berjalannya waktu teman tersebut bertaubat.

"Yohanes Widada yang dulu suka menjegal berita-berita Islam, sudah masuk Islam dan keluar dari Media Grup. Alhamdulillah." kata dia.

Seorang pengguna media sosial pun menimpali dan menambahkan fakta baru, "Redaktur dilingkungan MI itu kebanyakan kristen radikal yang sembunyikan diri seolah toleran. Terlihat dari fanatismenya pada Ahok, " kata Putra Surya dengan akun @kekasihmatahari.

Edy menekankan bahwa media massa seharusnya adil dalam menjalankan perusahaannya. "Media massa yang tak berbasis agama, tak boleh lakukan itu. Ini etika standar," ungkapnya.

Melalui selembar surat ia membuktikan bahwa dirinya tidak dipecat melainkan mengundurkan diri sejak tahun 2007. [Paramuda/BersamaDakwah] DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment