Can Cumursu: Pahlawan Anti Kudeta 15 Juli Turki


Can Cumurcu banyak berdiri. Ini karena sebagian besar karena pekerjaannya. Dia adalah muhtar atau kepala desa di sebuah desa kecil di Istanbul sisi Asia dan perannya yang berkaitan dengan pemerintahan menjadi pusat perhatian warga desanya.

Ketika saya mengunjungi kantornya selama sejam, dia berdiri beberapa menit untuk menyambut penduduk desa yang ingin mendapatkan tanda tangan atau pengajuan ijin sesuatu urusan. Orang ingin bertanya banyak hal padanya.

“Maaf sebentar!”, kata Tuan Cumurcu kepada saya karena ada suara telepon berdering. “Satu lagi telpon”.

Namun ada alasan lain bagi Cumurcu untuk berbuat. Selama upaya kudeta musim panas lalu, muhtar, loyalis Presiden Recep Tayyip Erdogan ini memimpin perlawanan rakyat melawan para tentara pemberontak di wilayahnya. Ketika pasukan mencoba mengepung wilayahnya, peluru merobek paha sebelah kanannya.

Luka itu belum sembuh benar. “Saya harus berdiri untuk menghindari rasa sakit,” keluhnya.

Tuan Cumurcu membawa saya mengelilingi desanya, Vengelkoy dan ketika dia tidak lagi sedang menyambut atau berbincang dengan penduduk, dia menunjukkan kepada saya apa yang terjadi pada peristiwa malam kudeta tersebut.

Kami melintasi tempat dimana sekelompok penduduk yang ketakutan memberitahunya bahwa pasukan sedang bergerak sesaat setelah pukul 10 malam 15 Juli. Sejam kemudian, seorang kolonel pro kudeta menghampirinya dengan senjata dan menyuruh kami masuk kerumah. “Apa anda lagi mabuk? apa anda minum?,” katanya sembari mengingat kejadian tersebut.

Kolonel itupun dia usir dan kejar. Kesempatan tersebut digunakan oleh Cumurcu membuat banyak barikade di tempat diluar stasiun polisi setempat.

Saat kami berjalan santai, saya tanya apakah Tuan Cumurcu sekarang merasa tidak enak karena apa yang terjadi sekarang ini karena aksi heroisme: adanya erosi besar-besaran nilai-nilai demokrasi dan ditahannya banyak disiden pasca kudeta -termasuk para jurnalis seperti Tuan Gursel.

Namun ketika saya tanyakan hal itu, Tuan Cumurcu mengklaim bahwa tidak ada jurnalis yang ditahan. Mereka semua adalah orang-orang yang mencoba merusak negara, yang bukan menjadi peran media. “Di Inggris,” katanya merujuk ke negara saya,“Apakah anda tidak melakukan hal yang pertama kepada negara, meskipun anda komunis atau sayap kanan?”

Ini bukanlah pertanyaan yang mengisyaratkan tentang konsepsi tertentu atas peran individu dalam masyarakat dan orang yang membantu menjelaskan mengapa seorang lelaki seperti Tuan Cumurcu lebih memprioritaskan loyalitas politik ketimbang keselamatan dirinya pada malam kudeta itu. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment