Pidato Habib Rizieq Patriotik: “Siap Pertahankan Pancasila? Merdeka!”


Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Habib Muhammad Rizieq Syihab menghadiri diskusi bertajuk "Kedaulatan NKRI Tanggung Jawab Kita Semua" di Gedung Joeang 45, Jl Menteng Raya Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2017).

Dalam kesempatan itu, Habib Rizieq memaparkan tentang Pancasila secara gamblang. Pidato kebangsaan  Habib Rizieq dihadiri pula oleh tokoh-tokoh nasionalis dan purnawirawan jenderal.

Bukan hanya sila pertama yang dibedahnya. Sila-sila yang lain juga dia paparkan dengan jelas. Dari pidato tersebut terlihat jelas nasionalisme dan jiwa patriotiknya.

“Bangsa Indonesia siapapun dia berhak untuk mendapatkan keadilan dan berhak untuk selalu diperlakukan dengan adil. Bahkan juga harus diperlakukan dengan beradab. Yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.” Tegasnya dengan gaya orasi yang khas dan berapi-api membahas sila kedua.

Inilah  sesuai dengan yang diperjuangkannya melalui GNPF. GNPF yang dipimpinnya tidak akan membiarkan segala tindakan yang tidak berkeadilan dan tidak beradab sesuai sila kedua Pancasila ini.

Berikutnya Habib Rizieq menjelaskan sila ketiga “Persatuan Indonesia”.  Sila ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah sepakat negara ini adalah negara kesatuan. Habib Rizieq dengan tegas mengajak seluruh komponen bangsa untuk menolak adanya gerakan separatis dari Aceh hingga Papua.

“Indonesia ini bukan negara federasi. Indonesia ini negara kesatuan. Sehingga kalau ada satu wilayah yang menghendaki untuk melepaskan diri dari NKRI, enggak bisa referendum yang hanya untuk wilayah tersebut.” Ungkapnya dengan suara yang semakin berapi-api.

Menurutnya jika sampai ada referendum maka seluruh warga negara dari Sabang sampai Merauke harus dilibatkan. Ini karena bangsa Indonesia telah sepakat bahwa bentuk negara kita adalah Negara Kesatuan.

Soal sila keempat menurut Habib, dasar negara kita adalah musyawarah untuk mufakat. Musyawarah mufakat artinya  dengan mengumpulkan para ahli di setiap bidang dan memiliki integritas dan menguasai disiplin ilmu tertentu untuk merumuskan kebijakan-kebijakan negara.

Ini yang membedakan demokrasi Pancasila di Indonesia ini dengan demokrasi liberal, demokrasi sosialis, dan bentuk demokrasi lainnya.

Menurutnya prinsip demokrasi Indonesia ini sudah bergeser ke arah demokrasi liberal yang menganut “one man one vote”. Dan ini bertentangan dengan sila keempat.

“Hikmat kebijaksanaan” tidak berarti melibatkan semua orang yang tidak berilmu dan tidak memiliki integritas moral. Habib Rizieq menentang jika Presiden, ulama, dan para ahli disamakan dengan para pelacur, maling-maling negara, dan orang-orang yang tidak berilmu.

Mengenai sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” habib kembali bersuara lantang menyorot tidak meratanya keadilan sosial. Indonesia dalah negara yang kaya raya dengan segala hasil alamnya, sangat ironis menurutnya jika masih ada yang kelaparan dan makan nasi aking.

“Bagaikan tikus yang mati di atas lumbung padi, Sudara! Kita kaya raya! Sekali lagi kita kaya raya! Kita tidak miskin! Maka itu ayo kita bangkit sudara! Kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, kedaulatan hukum, kedaulatan teritorial, kedaulatan bangsa, harus kita rebut dan kita tegakkan kembali di bumi Indonesia!” himbaunya dengan berapi-api.

Di akhir pidato Habib Rizieq mengobarkan semangat para peserta dengan pekikan “Siap bela agama? Siap bela negara? Siap bela NKRI? Siap pertahankan Pancasila? Takbir! Merdeka!!” Semua peserta membalas dengan gemuruh takbir dan pekikan “Merdeka!”.[ibw] DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment