Penista Agama Dibela, Pembela Agama Dihina


Ahli Politik Universitas Nasional Dr. Firdaus Syam mengaku heran terhadap kondisi saat ini. Fakta yang terjadi sekarang, penista agama dibela sedangkan pembela agama dihina.

“Penista agama dianggap toleran, pembela agama disebut intoleran,” kata Firdaus Syam saat menyampaikan pendapat dalam diskusi CSIL di Gedung Juang, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (20/01/2017).

Lebih mengherankan lagi, lanjut Firdaus, pada saat yang sama PKI, kaum sekuler dan liberal dibiarkan berkembang. Sementara kelompok yang menegakkan agama dihujat, dihina, dimarjinalisasikan dan dikriminalisasi.

“Ketuhanan Yang Maha Esa tidak dalam poisi menjiwai sila-sila yang lain. Agama disebut sebagai sumber konflik,” tandasnya.

Negara Korporasi

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) H Usamah Hisyam mengungkapkan, meskipun jutaan umat Islam berkumpul di Kawasan Monas pada Aksi 212, nyatanya mereka bisa dikalahkan oleh seorang Ahok.

“Anggapan bahwa negara dikelola secara korporasi benar adanya. Karena itu kita tidak boleh diam,” tandasnya.

Parmusi, lanjut Usamah, sejatinya telah memetakan dua hal terkait kondisi bernagsa dan bernegara saat ini. Pertama, terbentuknya Poros Jakarta-Peking dengan pemikiran Komunis. Kedua, poros Jakarta-Washington yang merupakan poros Liberal.

“Ini grand design merebut bangsa Indonesia. Anda rela negara ini dikuasai mereka?. Bila tidak, mari lawan,” pungkasnya. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment