Sisi Positif dari Tindakan Memalukan Belanda atas Turki


Yvonne Ridley
Referendum selalu menjadi berita  yang akan disambut dengan sumpah serapah, histeria maupun dukungan. Memang demikian yang terjadi, kita lihat bagaimana media Barat dalam menanggapi berlebihan atas referendum yang diselenggarakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sumpah serapah dan tindakan rasisme yang terbuka ditunjukkan di Barat sehingga mencederai tradisi demokrasi kita.

Sebelum kita sampai pada kesimpulan kepada bagaimana perlakuan Eropa yang tidak benar, mari kita pertama membayangkan apa yang akan terjadi jika PM Inggris Theresa May atau para menterinya dilarang berbicara di depan pertemuanwarga Inggris di luar negeri sebelum diadakannya pemilu di dalam negeri. Atau kericuhan apa yang terjadi jika PM Skotlandia Nicola Sturgeon atau para anggota kabinetnya dilarang melakukan pertemuan di belahan benua Eropa dengan warga Skotlandia di luar negeri?

Bersamaan dengan referendum Brexit dan kontroversi referendum warga Skotlandia yang masih menjadi isu hingga kini, adalah hal yang tidak dipercaya jika kedua belah pihak tidak ingin berbicara dengan para warganya yang banyak tinggal dan bekerja di Eropa. Jika mereka dilarang melakukannya, tidak diragukan bahwa media barat -terutama pihak kanan- akan sangat marah dan memang demikian. Kami tidak ragu lagi mengatakan akan terjadi demonstrasi di jalanan London dan Edinburg, dan mungkin kota-kota besar lainnya di Eropa.

Namun, inilah yang terjadi di Belanda beberapa waktu lalu setelah dua menteri Turki dilarang otoritas Belanda berbicara dengan warga Turki yang memiliki dua kewarganegaraan. Pesawat menteri yang hendak mendarat dilarang, sementara satu menteri lainnya digiring dengan cara yang memalukan menuju Jerman. Polisi Belanda menggunakan meriam air dan anjing untuk membubarkan para pendemo warga Turki-Belanda pada akhir pekan lalu yang menunjukkan betapa mereka dibatasi haknya untuk mendengar para politisi membicarakan referendum didepan mereka. Tidak heran jika, Erdogan sangat marah.

Apakah kita suka atau tidak dengan Erdogan dan politiknya, mengapa menjadi terlarang bagi partainya untuk berkampanye di dalam dan luar negeri ketika dia mencoba memenangkan referemdum atau mendapatkan lebih banyak kekuasaan sebagai presiden Turki? Media Turki berulang menayangkan tindakan brutal aparat keamanan Belanda yang menyerang para demonstran Turki yang tinggal disana.

Turki kini mencoba mendapatkan dukungan Pengadilan HAM Eropa dalam perselihan politiknya dengan pemerintah Belanda. Erdogan juga mengumumkan sejumlah sanksi terhadap Belanda. Para diplomat Belanda kini tidak lagi disambut di Turki dan Presiden Turki telah menuduh Belanda sebagai sisa-sisa Nazi dan fasis. Perancis dan Jerman seperti yang diprediksikan menawarkan bantuan kepada Belanda, sementara komisi Eropa dan NATO mendesak supaya menahan diri.

Berapa banyak semua kejadian berkaitan dengan rencana pemilu di dalam negeri Belanda yang lagi ketat persaingannya. Partai politik yang berkuasa ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat bertindak keras terhadap komunitas imigran seperti yang dikampanyekan Geerts Wilder.

Tentu, jika Belanda adalah Republik banana atau negara kediktatoran, maka kita akan menganggukkan kepala setuju dan inilah apa yang akan terjadi jika tidak adanya demokrasi. Kenyataannya, kebrutalan mereka digunakan kepada warga Turki di jantung demokrasi Eropa.

Ada kemungkinan kuat bahwa kebencian mereka tersebut ditujukan kepada Erdogan dan hal yang sama akan terjadi di seluruh Eropa berminggu-minggu sebelum referendum dilakukan. Austria, tempat kelahiran Hitler, kita tidak lupa bahwa negara itu yang menyerukan pelarangan di seluruh Eropa kampanye referendum Turki. Pesannya jelas: Warga Turki yang memilih tinggal di Eropa tidak lagi diijinkan untuk berkumpul dan mendengarkan tokoh-tokoh politik mereka dari kampung halamannya. Ini tidak pelak akan menjadi preseden yang berbahaya di Eropa disaat kalangan kanan radikal sedang unjuk gigi. Kalangan minoritas akan mengalami ketakutan seperti yang dialami komunitas Yahudi pada awal 1930-an. Kita tahu semua bagaimana akhir dari ketakutan mereka.

Rakyat biasa telah menjadi mangsa politik di Eropa hari ini. Kami telah melihat buktinya ketika Theresa May menolak untuk menjamin kembali para warga Uni Eropa yang tinggal di Inggris bahwa masa depan mereka di negara barunya akan aman, bahkan setelah Brexit.

Kini tampaknya bahwa baik Turki dan Uni Eropa sedang mengalami benturan ketika kelompok sayap kanan radikal terus menabur benih kebencian dan ketidaksukaan di seluruh penjuru Eropa. Hal ini juga berbarengan dengan pelbagai demonstrasi yang diprakarsai organisasi anti fasis di seluruh Eropa yang hendak memprotes rasisme dan ancaman kebangkitan kelompok kanan ekstrim. London, Amsterdam dan Athena akan menjadi ajang aksi demonstrasi tersbeut. Karena Turki juga memiliki akar di Eropa secara geografi, maka setidaknya hal itu juga akan mengirim pesan kuat jika aksi yang sama dilakukan di Istanbul.

Jika gerakan sosial dapat mempromosikan semangat toleransi dan saling memahami di Eropa, maka mungkin pada politisi yang percaya dengan suara demokrasi akan menyambut semangat persahabatan dan kebersamaan bagi semua warga negaranya, tanpa memandang keyakinan, etnik, jender atau budaya. Jika hal itu terjadi dan besar maka peristiwa yang memalukan seperti yang disaksikan di Belanda tidak berakhir begitu saja. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment