Eropa Tidak Fair


Insiden politik terbaru Turki dengan Belanda dan Uni Eropa menunjukkan persekutuan negara-negara Eropa tersebut tidak fair dan konsisten.

Tindakan pengusiran menteri keluarga Turki dan pelarangan Menlu Mevlut Cavusoglu mendarat di Rotterdam tidak hanya merusak persekutuan NATO, namun juga menggerus komitmen dan prinsip-prinsip demokrasi yang selama ini dibanggakannya.

Kampanye politik para politisi Turki di kalangan imigran Eropa adalah tradisi politik Turki lintas spektrum dan menjadi bagian dari prinsip dwi kewarganegaraan. Namun, pelarangannya kini dapat dibaca sebagai upaya menggagalkan upaya Erdogan merubah konstitusi Turki. Eropa tampaknya tidak dapat meninggalkan romantisme ‘mentalitas bos’ di masa lalu dan tetap menginginkan Turki sebagai bangsa “kasta pariah”.

Jika dasar pelarangan karena dikhawatirkan “merusak harmoni para imigran Turki dan mencampuri urusan dalam negeri” maka justru dalam perspektif yang sebaliknya, Belanda, Jerman dan Austria dapat dianggap “menghambat proses politik yang ada di Turki karena menghalang-halangi para imigran bertemu dengan para politisi mereka.”

Jika Erdogan marah dan menyebut pelarangan tersebut sebagai tindakan “sisa-sisa Nazi”, maka dapat dipahami karena hanya pemerintah fasis yang melakukan tindakan tersebut serta tidak menghormati prinsip dan tata krama internasional. Jika PM Belanda marah atas sebutan tersebut, dia boleh jadi lupa bahwa demonisasi Erdogan dan penyerupaannya dengan Hitler telah menjadi hidangan keseharian media Eropa. So what?

Jika Jerman masih memberikan keleluasaan acara diselenggarakan di konsulat Turki, sementara batalnya acara serupa di Bern, Swiss, karena alasan belum adanya tempat acara yang cocok, kini Belanda bertindak terlampau jauh, melarang para menteri berikut acaranya di konsulat Turki, di wilayah kedaulatannya sendiri.

Pelarangan dan pengusiran para menteri Turki tadi tidak pelak membawa dua pesan penting: pertama, menegaskan postulasi politik sebelumnya, adanya diskrepansi demokrasi Barat sepanjang tidak sejalan dengan kepentingan mereka. Kedua, untuk kesekian kali pula, Barat menunjukkan dirinya sebagai sekutu yang tidak kredibel bagi Turki. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment