Kapolri Undang Buzzer Ahok, Pengamat Politik: Seperti di Israel, Ini Justru Siram Bensin ke Pohon


Pertemuan antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan buzzer Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) justru akan memanaskan suasana. Memilah-milah netizen sama saja berpihak, suasana politik akan semakin panas.

Penegasan itu disampaikan pengamat politik Indra J Piliang. “Tim Buzzer si Y diundang, Tim Buzzer si X dikeplak; ya itu sama saja dengan berpihak kepada Tim Y, bersepak kepada Tim X. Ndak bakal bikin adem,” tegas Indra Piliang di akun Twitter @IndraJPiliang.

Menurut Indra, jika Kapolri tidak paham peta netizen di sosial media, bagaimana bisa membuat suasana sejuk jelang Pilkada DKI 2017. “Peta Netizen saja Kapolri tidak paham, bagaimana bisa membuat suasana jadi sejuk? Mau hujan-hujan basah-basah kayak sekarang juga tetap saja suasananya jadi panas. Cara kerja seperti ini justru menyiram bensin ke pohon seperti di Israel; bakal diburu angin Limbubu. Bikin resolusi konflik ya, ndak begitu caranya,” tulis ‏@IndraJPiliang.

Sebelumnya, pengamat politik Zainal Abidin menilai, “mesranya” hubungan Kapolri dan buzzer Ahok-Jokowi telah menyalahi etika. Karena di sisi lain, Kapolri tidak merangkul netizen lain yang memberikan kritik membangun kepada Jokowi ataupun Ahok.

“Jika benar seperti terlihat di foto, Kapolri bertemu dengan buzzer Ahok maupun Jokower, itu sangat tidak tepat. Itu menyalahi etika,” tegas Zainal Abidin kepada intelijen (24/11).

Kata Zainal, memang tidak ada yang salah jika Kapolri bertemu dengan anggota masyarakat dari berbagai kelompok. Tetapi, pertemuan dengan buzzer Ahok-Jokowi yang dikenal menggunakan kata-kata kasar, bisa memunculkan persepsi negatif.

“Buzzer Ahok juga akan merasa di atas angin. Buzzer Ahok akan dipersepsikan dekat dengan Kapolri sehingga mereka bebas membully netizen yang dinilai anti Ahok. Buzzer Ahok yang sering tebarkan isu SARA semakin terlindungi dari penangkapan aparat. Ini sangat berbahaya dalam penegakan hukum dan demokrasi di Indonesia,” papar Zainal.

Terkait hal itu, Zainal meminta buzzer “peliharaan” dibubarkan karena sangat berbahaya bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. “Saya justru sangat salut dengan Jusuf Kalla yang tidak memelihara buzzer maupun relawan, karena JK sudah pengalaman dalam bidang demokrasi dan tahu bahaya keberadaan buzzer maupun para pemuja,” pungkas Zainal. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment