Apakah Amerika Terlibat Kudeta?


Semakin menarik untuk menelisik apakah Amerika terlibat dalam kudeta berdarah 15 Juli lalu di Turki? Atau setidaknya mengetahui perihal rencana kudeta tadi.

Sebelumnya, Duta Besar Amerika di Ankara membantah tegas spekulasi keterlibatan negara adi daya ini dalam malam berdarah tersebut dan menganggap spekulasi itu tanpa dasar. Sementara Menlu AS John Kerry menyebut tuduhan tersebut akan membahayakan hubungan kedua negara.

Jurnalis Guardian David Hearst setidaknya yang pertama mencurigai adanya indikasi keterlibatan AS, setidaknya mengetahui (prior notice)  adanya rencana kudeta. Naluri jurnalistiknya menangkap adanya keganjilan dari statemen John Kerry di jam-jam awal kudeta. Dia menyampaikan pernyataan yang bersayap, yang sama sekali tidak menjelaskan posisi AS sebenarnya dalam  merespon kudeta berdarah kelompok militer di malam itu. Kerry hanya menyampaikan keinginan pemerintah AS akan stabilitas, keamanan dan kesinambungan di Turki.

Namun keesokan harinya, ketika meyakini percobaan kudeta itu gagal, baru Obama menyampaikan posisi terang Amerika yang menolak kudeta dan mendukung pemerintahan yang dipilih rakyat.

Kecurigaan ini didukung mantan jurnalis senior Aljazeera, Wardah Khanfar bahwa ketidaktegasan pemerintah Amerika di awal kudeta menunjukkan adanya derajat ‘pengetahuan’ tersebut dan dalam sejarahnya tidak ada kudeta di Turki tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan Amerika. Selain itu -menurutnya-  faktanya ada personil militer dan peralatan perang AS di pangkalan udara Incirlik.

Sementara seorang pakar hubungan luar negeri kenamaan, Eric Margolis dalam twitnya juga memberikan perspektif yang serupa. Menurutnya,  ketelibatan AS dalam kudeta bisa dilihat dari keengganan pemerintah Obama menyerahkan Fethullah Gulen. Namun, dia juga menengarai kegagalan kudeta akan semakin memperkuat posisi Erdogan dalam memberangus lawan-lawan politiknya.

Namun boleh jadi titik krusial perihal spekulasi itu, justru ada di pangkalan udara AS di Incirlik. Pemerintah mengungkapkan bahwa para pelaku kudeta mendapat dukungan signifikan dari Incirlik. Sabtu, pemerintah Turki segera menyegel lapangan terbang tersebut dan memutuskan aliran listrik karena adanya fakta beberapa pesawat F16 pembelot sempat mengisi bahan bakar  disana.

Setelah itu, komandan pangkalan udara Incirlik yang menjadi tempat penyimpanan senjata taktis nuklir AS, Jenderal Bekir Ercan bersama 10 prajurit lainnya dan seorang polisi ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam kudeta.

Dalam perkembangan penyelidikan, terungkap bahwa Brigadir Jenderal Hasan Polat, salah satu pemimpin kudeta dan anggota FETO (Kelompok terror Gulenis) ternyata telah melakukan serangkaian pertemuan dengan seorang Kolonel dan Letnan Kolonel AS di lapangan udara Incirlik yang disebut –sebut membicarakan kalkulasi korban sipil dalam rencana kudeta yang akan dijalankan.

Namun yang jelas, tuntuan ekstradisi Turki akan memberikan komplikasi politik rumit bagi AS. Jika sebelumnya, pemerintah Erdogan ‘setengah tutup mata’ dalam permintaan ekstradisi sebelumnya, namun kini tuntutan sebagaimana dikatakan juru bicara kepresidenan Turki akan menjadi batu ujian terbesar solidaritas AS atas pemerintah yang dipilih secara demokratis di Turki.

Ankara sebelumnya terlibat perselisihan dengan Washington karena dukungan AS kepada YPG, milisi bersenjata Kurdi yang dicap pemerintah Turki sebagai kelompok teroris. AS memanfaatkan kelompok ini dalam memerangi ISIS di Suriah. Bagi Turki, YPG tidak lebih dari kepanjangan kelompok teroris PKK yang beroperasi di perbatasan Turki-Irak. Baik YPG dan PKK dituding berada di balik serangkaian pemboman di wilayah Turki.(permatafm) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muslimina

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment