Komunitas Salafi terjun Ke Politik, Mereka Pilih Prabowo


Perhelatan pemilu ini dimeriahkan oleh aksi-aksi tokoh masyarakat maupun ormas. Yah tentu saja aksi-aksi saling dukung mendukung capres tertentu. Berbagai alasan mulai di berikan, mulai sara’ hingga mendukung masalah visi misi.

Ahmad Dani contohnya, diberitakan mendukung prabowo. Bahkan judulnya sedikit bombasti, “Ahmad Dani Lelaki Jantan Pilih Prabowo-Hatta” dan banyak lagi tokoh yang melakukan aksi dukung mendukung.

Lain cerita dengan ahmad Dani, ada sekelompok komunitas yang menamakan dirinya sebagai Salafi yang saat ini mulai terjun dipolitik praktis pada tahun ini. Perlu digaris bawahi walupun ciri sama-sama punya jenggot kayak Ahmad Dani, tapi komunitas ini mungkin banyak dikenal sebagai Aktivis Islam.

Salafi atau Salafy diambil dari kata dasar salaf yang artinya terdahulu/orang dahulu/nenek moyang. Dalam artian lebih spesifikasinya salaf adalah generasi awal munculnya Islam yaitu Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in.

Sehingga kata salafy ketika ada tambahan huruf “ Ya’ “ berarti penisbahan atau pengikut. Salafy adalah orang yang berusaha mengikuti orang terdahulu yaitu Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in.

Klaim salafy itu bukan monopoli golongan tertentu. Karena walaupun ada orang tanpa menggelari dirinya Salafy, jika mengikuti Nabi dan para sahabat.

Keindetikan komunitas Salafi yang mudah dikenal adalah laki-lakinya berjenggot, celana diatas mata kaki dan sebagian wanitanya bercadar. Tapi ingat saudara, keindetikan mereka jg hampir mirip dengan kelomppok jihadi. Walau mereka sama-sama mirip tapi secara sikap dan kepemahaman jelas berbeda.

Kelompok Salafi ini menganggap Pemerintah di Indonesia sebagai Ulil Amri yang harus dipatuhi. Dan bagi yang menentang dan membuat huru hara terhadap negara RI di cap Khawarij. Sehingga kelompok Salafy sering bermusuhan dengan kelompok jihadi yang bersikap sebaliknya.

Masyarakat yang sering lihat berita penangkapan teroris selalu identik dengan cadar dan jenggot. Sehingga mereka lebih menerima berita secara gebyak uyah kalau “cadar, jenggot” adalah teroris. Padahal orang salafy berbeda dari apa yang dikira oleh masyarakat

Komunitas Salafi ini mulai dikenal masyarakat Indonesia pada era laskar jihad waktu kerusuhan bermuatan sara’ di Ambon. Mereka membubarkan diri setelah fatwa ulama’ Saudi melarang pembentukan laskar Jihad.

Salafipun akhirnya membentuk beberapa kubu-kubu karena beberapa perbedaan hukum Ijtihad.

Lalu apa hubungannya dengan pemilu kali ini?

Komunitas Salafi sendiri yang sudah memiliki kubu-kubu paska pembubaran laskar Jihad saling menjatuhkan satu sama lainnya. Yang paling menonjol adalah perbedaan pandangan dalam hukum mencoblos dan Ikut pemilu.

Dalam hukum demokrasi mereka bersepakat tentang keharamannya. Adapun dalam hukum mencoblos pemilu mereka banyak melakukan perdebatan. Ada yang membolehkan dengan syarat keadaan darurat dan ada juga yang berpendapat melarangnya dengan sikap golput. Dan ada sebagian kubu lagi yang bersikap diam diantara keduanya.

Komunitas salafi yang dalam dua dasawarsa kemarin bersikap diam terhadap politik Indonesia kini seperti berubah haluan. Lebih-lebih saat ini beberapa tokoh salafi sudah mulai membuka diri pada peta politik Indonesia. Mereka mulai mempromosikan beberapa jagoan partai dan capres tertentu.

Diawali seorang tokoh Salafi ustadz Firanda, MA yang sedang menempuh program Doktoral di Universitas Islam Madinah. Melalaui blog pribadinya menyerukan agar Salafi menggunakan hak pilihnya karena Ijtihad para ulama seperti Syaikh Abdul Muhsin Abbad, Syaikh Nashiruddin Al-Albani, dsb.. Dalam blognya beliau memberikan opsi-opsi yang bisa dipilih paling rendah mudharatnya. Dan penulis masih ingat, opsi terakhir agar memilih parti PKS yang dulu pernah dimusuhi oleh salafy. Tapi sayang, setelah terjadi kegaduhan yang luar biasa di komunitas Salafy Indonesia akibat ijtihad beliau, rilis artikel di blog firanda.com dihapus. Dan akhirnya beberapa ustadz salafi dan pengikutnya sering mempromosikan partai besutan Anis Matta ini.

Berawal dari kejadian ini jurang perpecahan Salafy makin besar. Pihak yang kontra yang bersama ustadz Luqman Ba’abduh dkk sering mengkritik apa yang dilakukan oleh ustadz Firanda dkk. Bahkan mereka saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.

Runtutan pemilu untuk memilih calon legeslatif telah usai. Toh mereka sempat kecewa, ternyata suara yang pro-pemilu tidak mempengaruhi hasil pemilihan. Dan PDI Perjuangan pun memenangkannya.

Tapi kali ini sebagian komunitas salafi tidak berhenti begitu saja ketika menyambut pemilihan capres-cawapres. Sebelum adanyanya deklarasi resmi para calon, beranda-beranda media sosial mereka sudah menghiasai dukungan pada capres tertentu. Dan tentu saja ajang ghibah untuk menjatuhkan salah capres yang tidak mereka suka mulai gencar dilakukan.

Akhirnya ada ada beberapa da’i Muda dari komunitas Salafi yang bernama ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSC mulai membuka diri siapa calon presiden yang hendak dicoblos. Dia adalah pasangan capres Prabowo-Hatta.

Suatu hal yang wajar, tatkala menggadang capres tertentu. Jika sebelumnya status-status mereka di facebook bertema tauhid, fikih dan bernuansa nasehat Islami. Kali ini, semenjak ajang pemilu dimulai mereka berbicara politik, politik, politik dan politik.

Salafi yang dulu dikenal sebagai orang yang hanya membahas kajian-kajian Islam. Kini telah membuka diri masuk ke ranah politik.

Pertanyaan sederhana,

Apakah suatu saat Salafi Indonesia akan seperti Salafi Mesir yang membentuk partai An-Nur?

Tunggu ijtihad berikutnya..

Salam Lemper !!!

SumBer : Kompasiana/Roman sa DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment