Kisah Utusan ke Tembok Dzulqarnain


Babil Abwab, 22 H.

Raja Syahrabaraz berkata kepada Abdurrahman bin Rabi’ah—ketika Abdurrahman datang kepadanya dan baru sampai di pintu rumah Syahrabaraz—sembari menunjuk seorang laki-laki. “Wahai gubernur, sesungguhnya laki-laki ini pernah aku utus ke tembok (Dzulqarnain) dengan bekal harta yang melimpah serta menitipkan surat-surat untuk raja-raja yang ada di bawah kekuasaanku. Aku juga menitipkan hadiah untuk mereka. Selain itu, aku juga meminta agar para raja tersebut menulis surat kepada raja-raja yang ada di dekat mereka sehingga sampai kepada penguasa daerah tembok Dzulqarnain.”

Pria itu pun berangkat hingga sampai kepada raja yang ada di tembok Dzulqarnain. Raja itu pun mengutusnya untuk menemui pembantunya yang ditunjuk untuk mengurusi daerah tembok. Seorang pembawa burung elang diutus juga bersama laki-laki itu. Begitu sampai di tembok, ternyata di situ ada dua gunung tinggi yang di antara keduanya menjulang sebuah tembok yang sangat tinggi dan kokoh. Ketinggian tembok itu sama dengan ketinggian dua gunung tersebut.

Di bawah tembok tersebut ada parit yang berwarna sangat hitam karena begitu dalamnya. Mereka semua melihat ke dalam parit tersebut dan mengamatinya. Ketika hendak beranjak pergi, pembawa elang berkata, “Tetaplah di tempat Anda.” Ia mengeluarkan sepotong daging yang dibawanya dan melemparkannya ke udara di atas parit, lalu melepaskan burung elangnya.

“Jika elang itu berhasil menangkap daging itu sebelum menyentuh dasar parit, berarti di dalamnya tidak ada apaapa. Namun jika ia tidak berhasil menangkapnya setelah daging itu menyentuh ke dasarnya, berarti di dalamnya ada sesuatu,” ujar pemilik elang.

Ternyata elang tersebut tidak berhasil menangkapnya hingga daging tersebut jatuh di dasar parit. Elang itu terus mengejarnya dan membawa kembali daging tersebut. Ternyata di dalam daging tersebut terdapat yaqut (batu mulia). Kemudian raja Syahrabaz menyerahkan batu mulia itu kepada Abdurrahman bin Rabi’ah. Setelah diamati, Abdurrahman mengembalikannya lagi kepada Syahrabaz.

“Demi Allah, yaqut ini lebih berharga dari kota ini—yaitu kota Babil Abwab yang dia menjadi gubernurnya. Demi Allah, kalian lebih saya cintai daripada kerajaan keluarga Kisra. Seandainya saya berada di daerah kekuasaan mereka dan berita tentang yaqut ini sampai kepada mereka, pasti mereka akan merampasnya dariku. Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang menimpa kalian selama kalian dan kerajaan kalian yang besar memenuhi hak-haknya,” kata Syahrabaz.

Abdurrahman menghadap kepada utusan yang pergi ke tembok dan bertanya, “Bagaimana keadaan (sifat-sifat) benteng itu?” Sambil menunjuk baju yang berwarna biru dan merah, utusan itu berkata, “Seperti ini.” Lalu seorang laki-laki yang hadir di situ berkata kepada Abdurrahman, “Ia benar demi Allah, sungguh ia telah melaksanakan perintah dan melihat dinding itu.” Abdurrahman berkata, “Benar, ia telah menggambarkan sifat besi dan kuningan.

Allah berfirman

‘Berilah aku potongan-potongan besi, hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain, ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ (AlKahfi: 97).”

Sebagian ilmuwan modern—dengan segala alat pengintai dan pencari yang canggih dan mutakhir yang ada pada mereka—meragukan keberadaan dinding di kota Ya’juj dan Ma’juj. Mereka mempertanyakan, “Jika mereka benar-benar ada, di manakah mereka sekarang?”

Allah telah memuji orang-orang mukmin yang beriman kepada hal-hal yang gaib. Berapa banyak hal yang kita Imani padahal kita belum pernah melihatnya. Bila mereka meragukan tentang keberadaannya, berarti mereka juga telah meragukan azab kubur dan mengingkarinya, setelah mereka meletakkan alat-alat mereka di kubur bersama mayat. Mereka tidak tahu bahwa perkara akhirat adalah sesuatu yang gaib yang tidak bisa disingkap oleh alat-alat.

Mereka hanya percaya dengan apa-apa yang mereka lihat secara kasat mata. Hari kiamat adalah hari keterkejutan dan hari ditampakkannya berbagai hakikat. Ketika itu orang-orang beriman merasa gembira dan orang-orang yang mengingkari menyesal!”

Redaktur : Dhani El_Ashim

Diambil dari  Ajaib wa Tharaif Ibrat-Tarikh karya Hasan Ramadhan DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment