Inilah 8 Kontroversi Ketua GP Ansor Nusron Wahid


Nusron Wahid memang ketua Gerakan Pemuda Ansor yang berada di bawah organisasi Nahdhatul Ulama. Ia juga merupakan salah seorang kader Partai Golkar. Namun, sikap dan tindakannya seringkali jauh dari ciri ulama seperti KH Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU.

Berikut kami ringkaskan beberapa kontroversi dari anggota DPR RI 2014 yang merupakan lulusan Sarjana Sastra Universitas Indonesia ini:

    Mengundang Paduan Suara Gereja dalam Harlah GP Ansor

Nusron Wahid menyatakan sebagai bentuk persatuan Ansor sengaja melibatkan paduan suara Universitas Kristen Satya Wacana untuk mengisi acara Harlah GP Ansor pada 16 Juli 2012.

Bahkan untuk meneguhkan bahwa kedatangan paduan suara Kristen tersebut, dengan percaya diri Nusron Wahid menyatakan siapa yang bersilaturahim dengan GP Ansor maka mendapat ridho Allah.

“Barang siapa yang mau bersilaturrahmi dengan Ansor maka akan mendapatkan ridho dari Allah. Dan barang siapa yang menolak bersilaturrahmi dengan Ansor maka akan mendapatkan murka dari Allah,” ungkapnya.

    Membentuk Detasemen Khusus dengan Ilmu Kebal yang Syirik

Pada peringatan Harlah NU ke-85 diprolamirkan Densus 99 Banser NU untuk menangkal teror bom. Para personelnya diwajibkan puasa 30-40 hari untuk mendapatkan kesaktian ilmu kebal petasan.

Bertepatan dengan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-85, Gerakan Pemuda Ansor  memproklamirkan Detasemen Khusus 99 Banser Nahdlatul Ulama (Densus 99 Banser NU) untuk mengabdikan diri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam mencegah aksi terorisme.

Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid menyatakan Densus 99 terdiri dari 204 personil yang memiliki kemampuan ilmu kebal dan seni bela diri mumpuni. Selain ilmu kebal, detasemen yang dikomandani Gus Nuruzzaman ini juga dibekali keahlian menjinakkan bom.

    Menjaga Tokoh Lesbi Peleceh Islam

Kehadiran Irshad Manji, tokoh lesbian dan liberal, ke Indonesia, kata kiai Hasyim Muzadi, adalah upaya untuk melegalisasi perkawinan sejenis. Irshad Manji adalah seorang feminis Kanada yang juga dikenal pegiat lesbian. Dalam bukunya edisi Indonesia berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, menggugat sejumlah ajaran pokok dalam Islam, termasuk keimanan kepada keotentikan Al-Quran serta kema’shuman Nabi Muhammad.

Namun, oleh Nusron Wahid, Banser dikerahkan untuk menjagainya dalam salah satu diskusi yang digelar di Indonesia.

    Menggerakkan BANSER untuk Menjaga Gereja

Satuan Tugas Gerakan Pemuda Ansor, Banser, melibatkan sekitar 25 ribu personel untuk mengamankan gereja dan mengantisipasi keamanan dalam rangka perayaan Hari Natal 2013 di Jawa Timur.

Pihak Banser mengaku kegiatan seperti ini sudah setiap tahun dilakukannya. Khusus tahun ini, para Banser mulai melakukan pengamanan dan membantu aparat kepolisian sejak 23 Desember hingga 27 Desember 2013.

Tidak hanya pengamanan khusus di depan Gereja, Banser juga mengerahkan Banser Lalu Lintas yang bertugas mengamankan arus lalu lintas di sekitar Gereja. Bahkan, lanjut dia, Densus 99 Banser sudah beberapa minggu ini turun ke lapangan untuk mengamati perkembangan kerawanan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Banser sendiri jarang menjaga perayaan ibadah umat Islam seperti Hari Raya Idul Fithri dan lainnya.

    Menuduh Sesepuh Nahdhiyin Tidak Paham Sejarah

Demi mendukung pasangan calon presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Nusron menyebut para kyai sepuh NU pelupa sejarah masa lalu karenamereka mendukung pasangan Prabowo Hatta.

Asosiasi Pesantren NU Indonesia di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), KH Fathurrozi (Gus Fahrur) menuntut Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid meminta maaf.

“Kami sebagai sama-sama santri NU yang berguru kepada kiai sepuh sangat menyesalkan ucapan saudara Nusron Wahid. Dia secara terbuka telah mencela sikap para kiai sepuh NU Jatim. Kami minta Nusron segera minta maaf,” tukas Gus Fahrur

Selain itu, Rois Syuriah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Miftachul Akhyar pernah menegurnya langsung melalui media massa karena pernyataan Nusron provokatif dan bisa memecah belah kalangan Nahdliyin.

    Mengusulkan Kontes Miss World Diadakan di Pesantren

Di Kantor GP Ansor, Jakarta, Rabu malam, 4 September 2013 Nusron mengusulkan agar para kontestan Miss World diajak berkunjung ke Pondok Pesantren.

”Mereka bisa dibawa untuk berkunjung ke pondok pesantren, misalnya, agar mengenal Islam Indonesia yang ramah dan toleran,” tuturnya.

Dukungan aneh terhadap pagelaran maksiat Miss World dari GP Ansor itu bukan hanya bertentangan dengan Umat Islam di antaranya dari MUI dan ormas-ormas lainnya, namun berlawanan pula dengan PBNU. Karena PBNU menilai kontes kecantikan Miss World tidak lebih dari acara foya-foya yang menghambur-hamburkan uang tanpa memberikan kontribusi positif bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

    Mendesak SBYMenerbitkan Perpres Perlindungan Ahmadiyah

Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Nusron Wahid mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera menuntaskan konflik atas nama agama yang menimpa pemeluk Ahmadiyah.

Menurutnya, konflik tersebut tidak akan selesai, jika SBY tidak tegas terhadap masalah ini. Apalagi sudah terlalu banyak kasus kekerasan terhadap warga pemeluk agama baik Ahmadiyah, GKI Yasmin, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut, kata Nusron, SKB tiga menteri tak memiliki nilai kuat untuk melindungi warga Ahmadiyah. Seharusnya, presiden mengeluarkan langsung Peraturan Presiden (Perpres) untuk kasus Ahmadiyah. “Tata urutannya, SKB itu untuk internal, bukan untuk masyarakat. Harusnya peraturan perlindungan terhadap kebebasan beribadah ada di UU atau Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden. Perlindungan terhadap warga sipil, untuk beribadah dan tidak diganggu,” ungkap Nusron

    Menyebut Hukum Konstitusi Lebih Tinggi dari Hukum Agama

“Diatas hukum agama dan adat ada konstitusi negara, ” demikian perkataan Nusron Wahid, ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan sayap pemuda Nahdhatul Ulama.

Pernyataan itu diucapkannya dalam acara Indonesia Lawyer Club di TV One Senin 14 Oktober 2014 dalam rangka membela kepemimpinan Ahok yang beragama Katolik di Jakarta.

Di acara yang dipandu oleh Karni Ilyas itu, ia juga sempat mengatakan, “Kita orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia,” artinya kenegaraan harus diutamakan daripada keimanan.

Secara spontan Ketua Majelis Syura DPP FPI KH Syeikh Misbahul Anam yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan, “Kepada semua anggota GP Anshor di seluruh Indonesia sesuai “Fatwa” ketumnya, maka mulai besok jangan baca ayat Al-Qur’an tapi baca saja ayat Konstitusi, dan kalau sekarat atau mati maka jangan dibacakan Yasin, tapi bacakan saja ayat Konstitusi.”
(fimadani) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment