Abdul Hamid, Sang Wajah Tampan ini Syahid di Rabia


As-Syahid Abdul Hamid Muhammad Abdul Hamid Garib, lahir 8 Juli 1992 dan dikenal dengan nama Abdul Hamid Muhammad As-Syabrawy. Mahasiwa tahun ketiga Jurusan Perdagangan Universitas Al-Azhar Kairo, hasil ujiannya dengan nilai Jayyid Jiddan (Sangat Bagus) keluar pada hari Ahad bertepatan pada tanggal 21 Juli, tiga belas hari sebelum beliau syahid dalam pembantaian demonstrasi damai Rabiah Al-Adaweah.

Bapaknya adalah seorang pakar ahli kereta listrik bawah tanah, Prof. Muhammad, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga jebolan pendidikan diploma perdagangan.

Berbakti dan Cinta Orang Tua

Di antara karakter yang menonjol dalam diri As-Syahid adalah cinta dan baktinya kepada kedua orang tuanya.

Menurut cerita Ibunya, Abdul Hamid senantiasa meminta doa dan ridha ayah-bundanya, tak hanya itu, ia juga selalu berpesan dan meminta adik perempuannya untuk selalu mentaati ibu dan ayahnya. Setiap kali Abdul Hamid akan keluar rumah, maka ia terlebih dahulu minta izin kepada ibunya, dan juga tak pernah mengambil uang atau barang-barang apa pun tanpa izin dari ayah dan ibunya.

Sehari sebelum As-Syahid berangkat ke Kairo untuk bergabung dengan demonstrans yang melakukan aksi bertahan di Rabiah Al-Adaweah pasca pidato El-Sisi pada hari Rabu yang mengumumkan kudeta militer, Abdul Hamid mendesak untuk berangkat ke Kairo dan terus menerus menangis melihat keadaan negerinya, dan mengatakan bahwa negerinya telah hancur dan kembali ke mundur belakang.

Ia pun meminta izin dan ridha ibunya dengan memeluk erat ibunya minta agar ia diizinkan berangkat ke Kairo untuk bergabung bersama demonstran yang bertahan (sit in), namun nasehati ibunya agar ia berangkat hari berikutnya, dan nasehat sang ibu pun dijalankan.

Pada hari Sabtu, dua hari sebelum Abdul Hamid Syahid, salah seorang pamannya menelpon dan memintanya agar kembali ke rumah untuk melihat kondisi ibunya yang terbaring sakit, Abdul Hamid pun lalu menghubungi paman lainnya untuk memastikan berita ibunya yang dikabarkan sakit, namun paman yang dihubunginya menyangkal apa yang telah dikatakan oleh paman yang mengabarinya bahwa ibunya sedang sakit. Ibunya sehat-sehat saja dan tidak terjadi apa-apa.

Kami Hidup di Surga

Thariq, paman Abdul Hamid bercerita bahwa pada hari Ahad ia menelpon Abdul Hamid agar kembali ke rumah untuk mengambil perbekalan uang, namun Abdul Hamid menolak dan mengatakan bahwa ia hidup dalam ketenangan dan dia tidak butuh uang, “Kami Hidup di Surga”, demikian jawaban singkat As-Syahid.

Mengenai hubungan kedekatan dengan teman-temannya, ibunya bercerita bahwa satu-satunya masalah dalam hidup Abdul Hamid dengan salah satu temannya sejak beberapa tahun, namun Taqdir Allah menghendaki keduanya berdamai sebelum hari Abdul Hamid syahid, seolah-olah Abdul Hamid merasa dekatnya waktu pertemuan dengan Allah.

Abdul Hamid juga Sebelum berangkat ke Kairo, sempat mengunjungi tante dan adiknya yang telah menikah, seolah-olah kunjungan tersebut adalah kunjungan dan salam perpisahan. Abdul Hamid juga senantiasa menyambung silaturahmi dan selalu berkunjung secara berkesinambungan. Kenang tante As-Syahid.

Aktifis yang Cinta Masyarakat dan Lingkungannya

Tak hanya, cinta kedua orang tua, keluarga dan adik-adiknya, serta kebiasaannya menjalin silaturahim dengan sanak keluarganya, namun As-syahid juga adalah seorang aktifis sosial yang cinta dan perhatian pada masyarakat dan lingkungannya.

Salah seorang sepupunya bercerita bahwa Abdul Hamid mendirikan sebuah perkumpulan pemuda untuk melakukan kegiatan dan bakti sosial yang disebut Aliansi Pemuda Kebaikan (I'tilaf Syabab Al-Khaer), Abdul Hamid sendiri yang langsung memimpin organisasi ini dan melakukan pembersihan dan memperbaiki tiang-tiang lampu, membantu orang-orang fakir dan orang-orang membutuhkan, juga membentuk kafilah (team) kesehatan dan sebagainya.

Abdul Hamid juga perhatian pada pendidikan generasi muda, untuk itu ia senantiasa menyempatkan waktunya untuk duduk bersama anak-anak SMP dan SMA, mengajari anak-anak SMP dan SMA tersebut berbagai permasalahan agama dan membantu mereka mengatasi masalah-masalah mereka.

Ashim salah seroang siswa kelas dua SMP bercerita bahwa Abdul Hamid selalu mengajarinya pelajaran Al-Qur'an dan Sunnah, juga diiringi dengan wisata-outbond.

Perhatian yang sama juga dirasakan oleh Abdul Hamid, siswa kelas 1 SMA, As-Syahid Abdul Hamid, menurut Abdul Hamid yang namanya sama dengan As-Syahid mengungkapkan kemampuan As-Syahid yang bisa menyentuh hati dan selalu membuat anak-anak kelas 1 SMA tersenyum.
Suatu ketika As-Syahid Abdul Hamid meminta ayahnya agar memberinya sejumlah uang untuk keperluan membantu salah seorang temannya yang bapaknya meninggal, cerita sang ibu menceritakan sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh As-Syahid Abdul Hamid,

Peristiwa lainnya, lanjut sang ibu bercerita- saat Abdul Hamid memberikan buku pelajarannya, kepada salah satu temannya, karena temannya tidak mampu membeli buku-buku pelajaran tersebut yang nilainya berjumlah 1200 Pound Mesir (Rp. 1,900,000. Red).

Pembicaraan terakhir dengan ayahnya pada jam enam setengah pagi di hari pembantaian untuk menenangkan ayahnya yang menasehatinya agar menjauhi titik terjadinya penembakan polisi dan militer, namun karena sifat itsarnya (mengedepankan saudaranya) dan cintanya kepada orang lain, membuatnya ikut membantu penyelamatan orang-orang terluka walaupun ia sendiri terluka tiga tembakan Cartouche di tangan dan kakinya, inilah yang dikatakan salah satu sahabatnya yang berada di sampingnya setengah jam sebelum ia syahid yang menolak nasehat temannya untuk pergi ke Rumah Sakit Darurat (Lapangan) untuk mendapatkan pengobatan.[syuhadar4bia.com] DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment