Mengapa Kamerad PKS Makin Borju?


Suatu waktu Muraqib ’Am (Hilmi Aminudin) ditanya oleh seorang kader PKS, (nampaknya kader ini protes berat), “Ustadz, mengapa anggota dewan PKS sekarang ini semuanya makin borju aja?”. Di jawab dengan tenang dan penuh percaya diri oleh ustadz Hilmi bahwa mereka tidak borju, cuma menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pergaulannya.
Sangat betul bahwa kita semua harus mampu menyesuaikan dengan keadaan. Harus pandai membaca arah angin. Harus pandai membaca tanda-tanda zaman. Sebab perubahan itu adalah suatu hukum yang pasti. Perubahan harus dihadapi dengan perubahan, bukan dengan diam. Ini pemikiran yang hebat. Jurus kehidupan yang sangat tepat. Ya…kita memang harus menyesuaikan penampilan sesuai lingkungan pergaulan.
Ini bukan tentang siapa mewarnai siapa, apa, dan bagaimana. Ini bukan tentang menjadi garam dunia. Ini bukan tentang menjadi agen perubahan.….bukan. Ini tentang menari sesuai alunan kendang. Ini semua tentang mengikuti rincik hujan, tarian badai, dan hentakan lagu. Begitulah filsafat dakwah ustad Hilmi yang sangat brilian.
Adalah sangat tidak salah menjadi kaya. Semua orang berhak menjadi kaya. Siapapun tidak dilarang menjadi kaya. Siapa yang larang seorang aktivis dakwah menjadi kaya? Banyak para salafus shaleh yang hidup berkecukupan. Sebab memang tidak salah bergaya hidup mewah, “borju", alias "qorun". Termasuk bagi kamerad2 yang ada di PKS, coba lihat saja:
Pertama, Anis Matta, demi menyesuakan dengan keadaan gaya hidupnya sangat flamboyan. Selera ustat yang satu ini pada barang impor sangat tinggi. Saat takbir dan mengepalkan tangan di depan media (di kasus LHI), sangat jelas di tangannya nempel jam tangan rolex, yang harganya sekitar Rp 70-400 jutaan, yang dibalut jas mewah. Semua begitu nampak wah dan mempesona.
Istri kedua Anis juga di dapat dari hasil usaha impor. Namanya Szilvia Fabula yang berasal dari Hongaria. Walau begitu, saat Anis menikahi istri keduanya ini, banyak kader yang protes, soalnya untuk urusan menikah, seorang kader PKS tidak bisa sembarangan, ia harus menikah dengan pasangan yang sudah tertarbiyah pula, lha ini Anis kok malah menikahi mualaf. Isteri "bule" Anis ini sekarang konon pula tinggal di apartemen di sekitar HI, dan anak-anaknya pun disekolahkan di Eropa.
Urusan harta, Anis juga konon katanya punya rumah mewah empat tingkat, di tengah kampung di Utan Kayu. Saat pembangunan salah satu rumahnya yang di Bandung, sempat disegel pemkot karena dainggap menyalahi perijinan. Selain itu, ia memiliki kegemaran makanan enak, dan dari hotel ke hotel. Apalagi, posisinya yang sangat strategis (saat itu) sebagai Sekjen, dan Wakil Ketua DPR, yang membidangi bidang anggaran. Semua dilakukan untuk menyesuaikan dengan lingkungan pergaulan.
Kedua, Hilmi Aminudin, menurut laporan yang pernah di muat oleh The Jakarta Post, beberapa waktu yang lalu, tak kalahnya hebatnya, Ketua Dewan Syuro, Hilmi Aminuddin, sekarang membangun sebuah "kerajaan" di Lembang. Berbagai media telah melakukan investigasi, dan The Jakarta Post, melaporkan bagaimana posisi "kerajaan" Hilmi Aminuddin di Lembang. Ditambah dengan tanah yang luas, termasuk peternakan sapi. Tanahnya aja bukan hitungan meter, tapi sudah bukit, dan konon satu bukit lagi siap dibeli.
Melihat gaya hidup para "kamerad" PKS, sungguh sangat luar biasa. Padahal, dulunya mereka ini orang-orang yang sangat miskin. Tidak memiliki apa-apa. Tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Kecuali  sebagai da'i. Hidup dari mimbar ke mimbar. Maisahnya dari amplop ke amplop. Tetapi, hanya waktu kurang dari satu dekade, segalanya telah berubah, termasuk gaya hidup mereka telah berubah, secara dramatis. Semua ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan lingkungan pergaulan.
Maafi Musykilah jika ada Qiyadah yg menggunakan Mercy sebagai “tunggangannya” kalo perlu beli sekalian jet pribadi. Tidak mengapa kalo ada ikhwah PKS yang punya rumah megah nan mewah, istri bule nan cantik jelita bak Cleopatra. Semua sah-sah saja demi dakwah semuanya adalah halal dan barokah. Semua itu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulan. Tidak lebih.
Wallahu a’lam bi shawab. DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About MUSLIMINA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. artikel yang sungguh memuakkan dan membikin perut mual, kelihatan sekali pro nya tidak objektif, harusnya lihat dong dari berbagai sisi, hidup mewah koq bangga, rasul dan sahabat bisa memilih hidup mewah tetapi lebih cinta hidup sederhana, ingat itu

    ReplyDelete
  2. mungkin artikel ini perlu di ulas lebih lanjut, karena banyak hal yg mesti didiskusikan. Sehingga kita tidak terjebak dalam taqlid buta.....

    ReplyDelete