Amien Rais Ditarget Rezim Jokowi, Muslim Arbi Ingatkan Jangan Sampai Istana Tinggal Menghitung Hari


Banyak yang menganggap Amien Rais (AR) dijadikan target operasi oleh rezim Jokowi dengan menggunakan 'tangan' KPK. Kordinator Gerakkan Aliansi Laskar Anti Korupsi (Galak) Muslim Arbi mengungkapkan beberapa catatan yang sempat terekam kenapa tokoh reformasi itu dijadikan target.

"Pak AR diminta ketemu rahasia oleh Jokowi dengan menggunakan Luhut Binsar Panjaitan sebagai utusan, ditolak. Karena Pak AR minta ketemu terbuka, tapi tidak dilayani oleh Jokowi," kata Muslim Arbi melalui pesan elektronik yang dipancarluaskannya, Senin (5/6).

Kemudian, AR memimpin delegasi aksi 212 ke Komnas HAM untuk meminta mengusut kriminalisasi ulama. Selain itu, mantan Ketua MPR RI itu minta Komnas HAM untuk mendorong tes DNA terhadap Jokowi. Permintaan tes DNA ini pernah juga disuarakan oleh penulis buku Jokowi Undercover, Bambang Tri dan Komisoner Komnas HAM, Natalius Pigai.

AR, sebut Muslim Arbi, juga sangat aktif dalam gerakan bela Islam, bahkan turut berorasi di atas mobil komando bersama para ulama.

Catatan lain yang terekam dari AR, ia menjadi narasumber utama saat diadakan diskusi membahas soal reklamasi teluk Jakarta di gedung parlemen, dan menantang Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan untuk adu data. AR dalam kesempatan itu bahkan mendesak penegak hukum untuk usut dana reklamsi yang diterima pejabat. Konon jumlahnya mencapai Rp 10 triliun.

AR juga menjadi pembahas utama buku yang di tulis oleh Dr Marwan Batubara, mantan senator DKI dan Direktur IRESS dengan judul "Dugaan Korupsi Ahok" bersama sejumlah tokoh di gedung DPR RI.

"Dugaan penulis, kegiatan Pak AR itu pasti sangat menohok penguasa terutama Jokowi yang dikenal sangat getol bela Ahok dengan sejumlah kasusnya. Sehingga KPK, kepolisian dan kejaksaan pun tidak berani menyentuh mantan wagub Jokowi di DKI itu, kecuali dalam kasus penistaan Surat Al Maidah 51," papar dia.

Pertanyaannya, sebut Muslim Arbi, kenapa sekarang AR 'dikerjai' oleh Istana di bawah komando Presiden Jokowi dengan KPK sebagai eksekutornya? Menuruut dia, hal ini adalah sebuah skenario untuk berupaya melumpuh gerak laju AR dalam membela kepentingan bangsa dan negara.

"Jokowi dan orang-orangnya lupa mengutak atik Pak AR dengan kasus yang tidak jelas merupakan sebuah kesalahan besar," masih kata Arbi.

Lebih lanjut Muslim Arbi melihat badai politik sangat mungkin menghempas Istana, karena umat sangat marah dengan ketelodoran yang mereka lakukan. Jokowi dan tim jangan melupakan bahwa jutaan orang akan datang ke Jakarta dengan tulus dan suka rela mendukung AR.

"Jokowi sebaiknya meminta maaf kepada AR dari pada kursimu melayang karena ini. Ingat, Jumat 9 Juni semua tokoh aksi bela Islam akan kumpul di Istiqlal untuk ambil sikap. Jokowi jangan anggap enteng dan sepele dengan kehadiran mereka. Jangan sampai, tinggal menghitung hari di Istana. [rmol] DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muhammad Ismail

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment